Kita ketahui bahwa minyak dan gas adalah bahan energi yang tidak bisa diperbarui. Sumur-sumur minyak, jika dieksploitasi terus menerus akan berkurang cadangannya dan akan akhirnya akan habis pada waktunya. Hal itu yang terjadi pada sumur-sumur minyak Indonesia, yang sebagian besar adalah sumur-sumur tua dan mulai lelah karena telah dipompa keluar secara terus menerus. Bahkan ada yang telah dieksploitasi sejak abad ke 19, seperti di Sumatera Utara.

gerbang_260_9

Kondisi tersebut juga terjadi di seluruh dunia. Sejak tahun 2000-an, di seluruh dunia, tidak ditemukan lagi lapangan minyak raksasa. Kendati teknologi eksplorasi semakin canggih seperti system pengelolahan lapangan minyak shale-oil, namun yang ditemukan adalah lapangan minyak kecil dan terus semakin kecil. Demikian pula halnya dengan kegiatan eksplorasi yang dilakukan di seluruh Indonesia. Sejak sepuluh tahun terakhir tidak berhasil menemukan lapangan minyak dengan cadangan produksi yang besar. Kebanyakan yang ditemukan adalah sumur-sumur minyak marjinal dengan kapasitas produksi di bawah 10.000 barrel per hari (Nasti, 2015).

Tantangan berikut yang dihadapi Indonesia sekarang, khususnya SKK Migas adalah turun tajamnya harga minyak mentah. Bahkan saat ini harga minyak sudah di bawah USD 40,- barel per hari. Hal itu antara lain disebabkan ditemukannya minyak jenis baru yang diproduksi oleh AS, seperti shale-oil yang diolah dari batuan dan ongkos produksinya lebih murah.

peta-cekungan-2012

Meskipun demikian, berbeda dengan di negara-negara maju yang cadangan minyaknya mulai habis, berdasarkan data yang tersedia, sebenarnya cadangan minyak Indonesia sebenarnya cukup melimpah. Masih ada 44 cekungan yang memiliki cadangan minyak prospektif, yang belum kita garap. Masih tersedia sekitar 7549,81 Million Stock Tank Barrels (MMSTB) dan cadangan gas yang sudah terbukti adalah 108,40 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF) dan diproyeksikan potensinya mencapai 48,74 TSCF sehingga cadangan gas total adalah 157,14 sebagai cadangan prospektif di dalam perut bumi Indonesia (LEMIGAS, 2011).

Yang menjadi masalah adalah cadangan minyak dan gas tersebut masih bersembunyi di lapisan perut bumi yang cukup dalam. Banyak pula cadangan migas tersebut berada di bawah dasar laut dalam yang ombaknya ganas. Karenanya, industri migas merupakan industri padat modal dan padat teknologi serta penuh resiko.

12038186_992675850796632_1538670030856576750_n

Biaya yang diperlukan untuk kegiatan eksplorasi, khususnya pengeboran sumur migas di laut dalam bisa mencapai US$ 100 juta per sumur, dan di darat hampir rata-rata sekitar US$ 15 juta. Padahal, sumur yang perlu dibor pada setiap lapangan migas bisa puluhan sumur. Sehingga suatu kegiatan eksplorasi membutuhkan dana ratusan juta sampai miliaran dollar, dan itu tanpa kepastian bahwa dana yang dihabiskan bisa kembali, atau justru ikut hanyut di laut dalam.

Dalam pengusahaan teknologi eksplorasi migas ini, perusahaan-perusahaan migas nasional kita pada umumnya baru sampai pada penguasaan teknologi untuk kegiatan eksplorasi di daratan (onshore). Untuk kegiatan eksplorasi di darat kita juga sudah memiliki SDM yang cukup memadai. Masalahnya, kegiatan eksplorasi migas sekarang sudah mulai bergeser ke laut dalam (offshore), yang teknologinya masih bayak dikuasai perusahaan migas asing.

download

Peluang teknik bidang Industri di Oil & Gas dari upstream hingga downstream masih terbuka luas. Bukan hanya sebatas Supply Chain Management saja, namun dapat juga berkecimpung dalam lintas operasional seperti Safety Management, Method Engineering, Project Management, HRD, Operation, Logistik, dan lain-lain yang menerapkan standar mutu industri di industri oil & gas.

Seorang teknik industri masih sangat dibutuhkan oleh industri oil & gas sebagai support, dan oleh sebab kebutuhan support yang sangat luas tersebut memungkinkan seorang engineer teknik industri dapat beradaptasi di industri oil & gas. Proyek pembangunan di bidang migas masih akan terus melibatkan berbagai macam bidang disiplin ilmu di teknik baik itu Teknik Sipil, Mesin, Elektro, Industri, yang semuanya akan saling berinteraksi dan terintegrasi baik itu pada tahapan feasibility study, conceptual study, design engineering, construction (EPCI), maupun operasionalnya.