Pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu biasanya disebut dengan strategi. Adapun strategi yang baik sudah tentu akan ada koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Robert M. Grant mendifinisikan strategi juga dapat diartikan sebagai keseluruhan rencana mengenai penggunaan sumber daya-sumber daya untuk menciptakan suatu posisi menguntungkan sehingga perusahaan benar – benar bisa mencapai tujuan yang diinginkannya.

Dalam dunia usaha, kita banyak mengenal strategi bisnis seperti yang dikembangkan oleh Boston Consulting Group (BCG) dan kemudian digunakan oleh banyak perusahaan perusahaan Fortune 1000, atau strategi generik yang dikembangkan dan dikenalkan oleh Michael Porter, dan lain-lain.

Contohnya, Model strategi BCG (Boston Consulting Group), dalam menyusun suatu perencanaan unit bisnis strategi; ada pengklasifikasian terhadap potensi keuntungan perusahaan menggunakan matrik analisis portofolio bisnis sebagai langkah dalam perencanaan strategis yang didesain secara spesifik untuk mendorong usaha perusahaan multidivisi dalam merumuskan strategi tersebut. Mulai dari Tanda tanya (Question Mark) pada posisi pangsa pasar relatif yang rendah, tetapi mereka bersaing dalam industri yang bertumbuh pesat, Bintang (Star) pada posisi pertumbuhan pasar dan pangsa pasar tinggi, sampai pada Sapi perah (Cash Cow) diposisi pangsa pasar relatif yang tinggi tetapi bersaing dalam industri yang pertumbuhannya lambat, serta Anjing (Dog) dari organisasi memiliki pangsa pasar relatif yang rendah dan bersaing dalam industri yang pertumbuhannya rendah.

Sedangkan menurut Porter, pengusaha ingin meningkatkan usahanya dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan harus memilih prinsip berbisnis, yaitu produk dengan harga tinggi atau produk dengan biaya rendah, dan bukan memilih kedua-duanya. Disitu ada strategi diferensiasi, kepemimpinan biaya menyeluruh atau overall cost leadership, dan fokus. Starting point-nya adalah dari proses strategi generik ini adalah pasar, kompetisi dan pelanggan.

Contoh: PT. Pertamina Hulu Energi (PHE) merupakan anak perusahaan PT. Pertamina (Persero). Perusahaan ini menyelenggarakan usaha hulu di bidang minyak, gas bumi dan energi lainnya. Pendirian PHE, yang  resmi beroperasi sejak 1 Januari 2008, merupakan konsekuensi dari penerapan UU Migas 2001 yang membatasi satu badan usaha hanya boleh mengelola satu wilayah kerja saja. Untuk itu dalam mengelolah portofolio bisnis migas, PHE melakukan skema kemitraan dengan perusahaan dalam negeri maupun luar negeri dengan istilah participating interest (PI).

Dengan bentuk demikian, PHE diharapkan bisa terus berkembang, karena setiap ada Participating Interest baru, berarti ada anak perusahaan baru yang akan dikelola oleh PHE. Saat ini, PHE memiliki 36 anak perusahaan di dalam negeri, yang terdiri atas 9 anak perusahaan yang mengelola JOB-PSC (Joint Operating Body-Production Sharing Contract), 16 anak perusahaan pemegang Participacing Interests Division berupa Indonesia Participating Interests Division dan Pertamina Participating Interest, dan 9 anak perusahaan yang mengelola Production Sharing Contract – Gas Metana Batubara (PSC-GMB).

Sebagai perusahaan induk bagi seluruh anak perusahaan pemegang PI, telah membuat PHE memiliki peranan yang besar dalam peningkatan produksi Pertamina melalui optimalisasi produksi di lapangan yang dimiliki maupun akuisisi wilayah kerja eksplorasi dan produksi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Untuk memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan secara efektif dan efisien.  Kegiatan PT. PHE dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Menjalankan usaha pertambangan minyak dan gas bumi serta energi lainnya.
  • Melakukan Penyertaan saham dan kepemilikan PI di dalam dan di luar negeri
  • Menyelenggarakan kegiatan jasa konsultasi pengembangan bisnis dan manajemen portofolio.
  • Menyelenggarakan kegiatan usaha penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang kegiatan usaha tersebut.

Berdasarkan kegiatannya, Wilayah Kerja Migas dapat dibagi dalam beberapa fase yaitu Exploration Phase, Development Phase, Primary Production Phase dan Secondary Production Phase. Saat ini sebagian besar aset PHE berada pada Primary Production Phase, sementara Exploration Phase dan Development Phase  masih sekitar 22%, untuk itu diperlukan lagi strategi usaha untuk meningkatkan produksi, antara lain dengan:

  • Percepatan siklus blok dari exploration phase ke development phase serta dari development phase ke production phase.
  • Program dan strategi akuisisi blok (eksplorasi, pengembangan, produksi) untuk menjaga sustainability atau kesinambungan produksi total PT. PHE
  • Peningkatan aplikasi teknologi Enhanced Oil Recovery atau EOR (secondary dan tertiary recovery) dari lapangan tua (brown field).

Contoh portofolio diatas adalah kombinasi antara strategi usaha pada posisi bintang (star) dengan pangsa pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan industri yang tinggi. Sudah seharusnya PHE menerima banyak tawaran investasi yang tinggi untuk mempertahankan dan memperkuat posisi dominan mereka. Kategori ini adalah pemimpin pasar namun bukan berarti akan memberikan arus kas positif bagi perusahaan, karena harus mengeluarkan banyak uang untuk memenangkan pasar dan mengantisipasi para pesaingnya seperti Perusahaan Gas dari Luar Negeri lainnya.

Kedua, dalam menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan jumlah investasi yang tinggi, maka sudah barang tentu perusahaan dihadapkan kepada pilihan, yaitu produk dengan harga tinggi atau produk dengan biaya rendah. Hasil minyak dan gas bumi harus bijaksana dalam penggunaannya, maka perusahaanpun harus menentukan strategi korporasinya dengan tema pertumbuhan yang fokus pada usaha Migas di Dalam Negeri dan Selektif di Luar Negeri, dan cara PT. PHE agar setiap wilayah kerja migas yang dikelola dapat memenangkan persaingan (profitable) maka mereka harus meningkatkan keuntungan perusahaan melalui penambahan produksi melalui optimalisasi aset eksisting, pengembangan lapangan, kegiatan EOR dan kegiatan eksplorasi lewat optimalisasi biaya dengan melakukan evaluasi struktur biaya setiap aset dan mengurangi biaya produksi, harus ada pertumbuhan cadangan melalui kegiatan eksplorasi, menerapkan HSSE excellence, dan membangun SDM yang capable and competitive dalam pentas dunia. ***