Secara sederhana Return on Investment (ROI) dapat didefinisikan sebagai sebuah perhitungan yang memungkinkan suatu usaha untuk menentukan jumlah usaha yang diterima dari penanaman sejumlah modal yang berupa uang atau sumber daya. Persamaan yang biasa digunakan untuk menghitung laba atas investasi ialah:

ROI = (laba atas investasi-investasi awal)/ investasi x (100)

Sedangkan PER dikenal sebagai salah satu indikator terpenting di pasar modal. Definisi resminya kira-kira adalah suatu rasio yang menggambarkan bagaimana keuntungan perusahaan atau emiten saham (company’s earnings) terhadap harga sahamnya (stock price).

Perhitungan rasio P/E atau PER dilakukan dengan cara membagi harga saham saat ini (current price of the stock) dengan keuntungan tahunan per saham (annual earnings per share-EPS).

Misalnya, emiten saham PT. VWXYZ mempunyai keuntungan bersih per saham (earning per share) sebesar Rp 200, dengan harga sahamnya saat ini Rp 2.000 per lembar, maka PER VWXYZ adalah 10. Artinya jika kita berinvestasi saat ini pada saham VWXYZ maka masa kembali modal pokoknya (payback period)-nya sekitar 10 tahun.

Mengapa demikian? Itu karena kita membeli saham tersebut dengan 10 kali laba bersih per sahamnya (EPS) dengan asumsi inflasi 0% dan VWXYZ mempunyai tingkat keuntungan tetap Rp 200 per saham. Untuk mendapatkan tingkat imbal hasil saham (return), maka cukup dihitung dengan 1/PER saja, sebagai contoh imbal hasil VWXYZ adalah 1/10, yaitu 10% per tahunnya.

PER juga merupakan angka psikologis bagi value investor dimana PER yang kecil akan lebih menarik dibandingkan dengan PER tinggi. PER rendah ini disebabkan oleh laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya, sehingga tingkat return-nya lebih baik dan payback period-nya lebih singkat lagi. PER yang kecil merupakan salah satu pertimbangan utama bagi value investing di samping faktor-faktor lainnya.

Maka PER saham yang lebih tinggi dari PER pasar kurang baik untuk investasi jangka panjang, namun dapat dilakukan untuk short-run atau trading dengan pertimbangan teknikal saja. Seorang investor yang cerdas akan menghindari saham dengan PER tinggi, apalagi saham itu mempunyai volatilitas yang tinggi sehingga memiliki potensi risiko yang tinggi pula.

Pada saat ini di mana harga saham berjatuhan, maka PER saham anjlok drastis hampir sebesar rata-rata 60% dan PER pasar sudah di bawah 10, maka ini merupakan sinyal kuat untuk memulai investasi nilai seiring dengan momentum krisis ekonomi.

Bahkan beberapa saham unggulan sudah mencapai PER di bawah 5. Bagi value investor momentum ini merupakan peluang investasi jangka panjangnya.

Sekarang Bagaimana menganalisa Tabel dibawah ini dengan menggunakan Microsoft Excel?

Tahun

Y

X1

X2

Harga Saham (Rp)

PER (%)

ROI (%)

1995

8300

4.9

6.47

1996

7500

3.28

3.14

1997

8950

5.05

5

1998

8250

4

4.75

1999

9000

5.97

6.23

2000

8750

4.24

6.03

2001

10000

8

8.75

2002

8200

7.45

7.72

2003

8300

7.47

8

2004

10900

12.68

10.4

2005

12800

14.45

12.42

2006

9450

10.5

8.62

2007

13000

17.24

12.07

2008

8000

15.56

5.83

2009

6500

10.85

5.2

2010

9000

16.56

8.53

2011

7600

13.24

7.37

2012

10200

16.98

9.38

PER = Price Earning Ratio
ROI = Return Of Investment

Silahkan download disini untuk XLS SpreadSheet-nya dan click disini untuk penjelasan serta interpretasinya (TUGAS ANALISA DATA – METLIT – INTERPRETASI & PENJELASAN (Muh Burhanuddin 09101006) Tugas METLIT Bu Vivi – Analisa Data XLS). Sedangkan cara setting Statistic Tool Pax bisa dilihat dibawah ini:

Langkah Pertama
Langkah Pertama
Langkah Kedua
Langkah Kedua