Masih ada cukup banyak orang yang salah mempersepsikan Behavioral Safety (BBS) sebagai sesuatu pendekatan baru yang dapat menggantikan fungsi sistem keselamatan kerja yang ada selama ini. Sebenarnya, sistem keselamatan kerja harus dibangun terlebih dahulu, kemudian BBS.

Apabila masih banyak perusahaan yang telah menerapkan sistem manajemen keselamatan dan masih terdapat cukup banyak kecelakaan, maka sistem tersebut perlu dikaji ulang dan bila perlu dicarikan pendekatan lain yaitu—antara lain pendekatan prilaku.

Behavioral Safety merupakan sebuah metode peningkatan keselamatan kerja dengan melibatkan seluruh pekerja mengenali prilaku kerja tidak aman melalui observasi, timbal balik, intervensi dan perubahan prilaku. Metode ini terbukti dapat menjadikan setiap pelaku bertanggungjawab atas keselamatan dirinya dan kolega kerjanya.

Sebagian besar kecelakaan kerja disebakan oleh prilaku dan tindakan tidak aman, walaupun sudah ada sistem manajemen keselamatan, terdapat prosedur kerja aman, bahkan berlakunya work permit sistem. Penyebab dari prilaku dan tindakan tidak aman ini adalah mind-set sebagian besar orang tentang bahaya.

Aspek utama untuk mencegah kecelakaan yaitu prilaku seringkali dihiraukan dalan penerapan sistem manajemen keselamtan kerja, Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Dominic Cooper. Cooper berpendapat walaupun sulit untuk di kontrol secara tepat, 80-95 persen dari seluruh kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh unsafe behavior.

Pendapat Cooper tersebut didukung oleh hasil riset dari NCS tentang penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Hasil riset NCS menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan kerja 88% adalah adanya unsafe behavior, 10% karena unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya. Penelitian lain yang dilakukan oleh DuPont Company menunjukkan bahwa kecelakaan kerja 96% disebabkan oleh unsafe behavior dan 4% disebabkan oleh unsafe condition.

Unsafe behavior adalah type perilaku yang mengarah pada kecelakaan seperti bekerja tanpa menghiraukan keselamatan, melakukan pekerjaan tanpa ijin, menyingkirkan peralatan keselamatan, operasi pekerjaan pada kecepatan yang berbahaya, menggunakan peralatan tidak standar, bertindak kasar, kurang pengetahuan, cacat tubuh atau keadaan emosi yang terganggu.

Lihat juga referensi lainnya disini.