knowledgesharing-300x208Knowledge sharing merupakan kegiatan untuk membantu orang bekerjasama, memfasilitasi pertukaran pengetahuan mereka, meningkatkan belajar organisasi, dan meningkatkan kemampuan untuk mencapai tujuan individu dan tujuan organisasi Dyer dan Nobeoka (2000). Manfaat yang diperoleh dengan adanya sharing pengetahuan di organisasi yaitu munculnya inovasi, mengurangi biaya, dan mencegah melakukan kesalahan yang sama. Meskipun demikian, untuk sharing pengetahuan yang efisien dalam organisasi merupakan hal yang tidak mudah.

Agar terjadi sharing pengetahuan yang efisien maka perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku knowledge sharing. Dalam tulisan ini dilakukan studi literatur mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku knowledge sharing dan model analisa yang digunakan untuk mengetahui pengaruh dari faktor-faktor tersebut.

Bock dan Kim (2001) meneliti faktor-faktor yang diyakini mempengaruhi perilaku individu untuk sharing pengetahuannya. Mereka menggunakan Theory of Reasoned Action (TRA) (Fishbein dan Ajzen, 1975) sebagai model penelitian untuk menjelaskan bagaimana faktor penentu mempengaruhi perilaku knowledge sharing. Pada model penelitian ini, mereka menambahkan expected rewards, expected assosiations, dan expected contribution sebagai salient belief yang mempengaruhi sikap untuk sharing pengetahuan. Menggunakan survei lapangan terhadap 467 pegawai pada empat organisasi publik, peneliti menemukan bahwa expected associations dan contribution merupakan faktor utama yang mempengaruhi attitude toward knowledge sharing individu. Temuan menarik dari studi ini yaitu expected reward tidak signifikan berkaitan dengan attitude toward knowledge sharing. Hasil temuan lainnya seperti yang diharapkan, attitude toward knowledge sharing yang positif menyebabkan intention to share knowledge yang positif yang pada akhirnya menuju perilaku aktual knowledge sharing.

Serupa dengan Bock dan Kim (2001), Samieh dan Wahba (2007) menekankan pada aspek salient belief mengenai knowledge sharing. Penelitian yang dilakukan oleh mereka bertujuan untuk mempelajari peran attitude toward knowledge sharing individu, dari perspektif sosio-psikologis, dan bagaimana mendorong keputusan untuk sharing pengetahuan. Model mengusulkan bahwa perilaku knowledge sharing individu digerakkan oleh seperangkat salient belief yang tidak berbeda dengan hasil pengertian tentang hasil dalam teori permainan. Analisa dilakukan dengan menggunakan kasus pada perusahaan telekomunikasi di Mesir. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hasil yang dirasakan dari knowledge sharing dicirikan oleh permainan berbagai jenis individu dan bahwa faktor pendorong perilaku individu adalah self esteem, expected association, expected contribution, self consistency, level of understanding, time to share, dan self interest.

Ryu et all (2003) meneliti faktor-faktor yang menentukan perilaku sharing pengetahuan dokter. Model penelitian yang digunakan dalam penyelidikan adalah Theory of reasoned action (TRA) dan Theory of planned behavior (TPB). Model tersebut secara empiris diperiksa dan dibandingkan, dengan menggunakan survei yang dikumpulkan dari 286 dokter di 28 departemen pada 13 rumah sakit di Korea. Dari hasil analisa diketahui bahwa model TPB cocok dengan data dan lebih unggul daripada TRA dalam menjelaskan intention dokter untuk sharing pengetahuan. Pengembangan dari model TPB meningkatkan kesesuaian data dan lebih baik dari model TPB yang asli dalam menjelaskan pengaruh subjective norm terhadap intention untuk sharing pengetahuan. Dalam model TPB yang telah dikembangkan, subjective norm ditemukan memiliki pengaruh total terkuat pada intention untuk sharing pengetahuan dari dokter melalui jalur langsung atau tidak langsung oleh sikap. Sikap ditemukan merupakan faktor penting kedua yang mempengaruhi intention. Perceived behavior control juga ditemukan memiliki pengaruh pada intention meskipun lebih lemah daripada subjective norm atau sikap.

Chen, Chen dan Kinshuk (2009) melakukan penelitian untuk memeriksa faktor yang mempengaruhi knowledge sharing dari perspektif perilaku manusia. TPB terintegrasi dengan ikatan jaringan sosial dan temuan empiris dari literatur komunitas pembelajaran maya digunakan untuk mengembangkan model penelitian. Model penelitian terdiri dari delapan hipotesis untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tentang apakah ikatan jaringan sosial, attitude toward knowledge sharing peserta didik, keyakinan akan kemampuan meraka dalam melakukan online knowledge sharing, dan subjective norm berhubungan dengan knowledge sharing intention, yang mengarah pada perilaku aktual dalam lingkungan belajar virtual. Studi ini memvalidasi secara empiris hipotesis hubungan dengan menggunakan survei lapangan mahasiswa sarjana dan pasca sarjana MBA yang mendaftar kursus yang dilakukan di komunitas pembelajaran virtual. Attitude, subjective norm, web-specific self-efficacy, dan ikatan jaringan sosial merupakan prediktor yang baik untuk knowledge sharing intention, yang pada akhirnya secara signifikan berhubungan dengan perilaku knowledge sharing. Penciptaan pengetahuan self-efficacy tidak berdampak signifikan terhadap knowledge sharing intention.

Connely dan Kelloway (2003) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi karyawan pada budaya knowledge sharing. Faktor-faktor yang diidentifikasi dapat dikategorikan ke dalam kelompok: faktor organisasi dan faktor individu. Faktor organisasi meliputi persepsi individu mengenai dukungan manajemen untuk sharing pengetahuan, persepsi mereka tentang budaya interaksi sosial yang positif, ukuran organisasi, dan adanya teknologi yang dapat memfasilitasi sharing pengetahuan. Faktor individu meliputi usia, jenis kelamin, dan jabatan organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi tentang dukungan manajemen untuk sharing pengetahuan dan persepsi yang positif tentang interaksi sosial budaya merupakan prediktor yang signifikan untuk budaya knowledge sharing yang positif. Ukuran organisasi berhubungan negatif dengan budaya knowledge sharing yang positif oleh karena itu organisasi yang lebih kecil lebih dikaitkan dengan budaya knowledge sharing yang positif. Terakhir, jenis kelamin ternyata signifikan sebagai moderator sehingga peserta perempuan membutuhkan lebih banyak interaksi sosial yang positif sebelum mereka melihat budaya knowledge sharing sebagai hal yang positif, hal ini berlawanan dengan laki-laki.

Lin et al (2009) melakukan penelitian dengan tujuan mengajukan evolusi model yang mengintegrasikan triangular fuzzy number dan the analytic hierarchy process (AHP) untuk mengembangkan model evaluasi fuzzy yang mengutamakan bobot relatif dari faktor-faktor yang mempengaruhi knowledge sharing. Faktor yang mempengaruhi knowledge sharing yaitu budaya perusahaan (social network, interpersonal trust, sharing culture, learning orientation, organizational reward), motivasi karyawan (reciprocal benefit, knowledge self-efficacy, enjoyment in helping other, reputation), kepemimpinan (vision and goals, top management support, top management encourage, open leadership climate), teknologi informasi (technology infrastruktur, database utilization, knowledge network). Hasil penelitian tidak hanya menyediakan model evaluasi fuzzy untuk perhitungan kepentingan relatif dari pengaruh faktor-faktor tersebut diatas terhadap knowledge sharing, tetapi juga dapat membantu para manajer berfokus pada faktor-faktor yang paling penting dan mengidentifikasi kebijakan terbaik untuk mempromosikan knowledge sharing.

Kim dan Lee (2005) menganalisis budaya organisasi, struktur, dan Teknologi Informasi (TI) pada kemampuan knowledge sharing karyawan pada lima sektor organisasi publik dan lima sektor organisasi swasta di Korea Selatan. Menurut data, jaringan sosial (social network), kinerja berbasis sistem penghargaan (performance based reward system), dan penggunaan aplikasi TI merupakan variabel yang signifikan mempengaruhi kegiatan knowledge sharing karyawan di organisasi swasta dan publik yang menjadi fokus dari studi. Data menunjukkan bahwa walaupun penggunaan aplikasi TI adalah faktor yang paling penting menentukan kemampuan knowledge sharing karyawan di lima organisasi pemerintah sedangkan di lima organisasi swasta faktor paling penting yang mempengaruhi kemampuan knowledge sharing adalah fokus akhir pengguna TI. Hasil juga menunjukkan bahwa karyawan swasta yang disurvei memiliki persepsi yang lebih kuat pada kemampuan knowledge sharing dibandingkan dengan karyawan sektor publik yang disurvei.

Dari beberapa literatur mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku knowledge sharing beberapa diantaranya menggunakan model teori perilaku untuk mengetahui pengaruh dari faktor-faktornya. Dalam teori ini, perilaku dipengaruhi oleh sikap individu dan budaya organisasi.

Sumber:
Tulisan Ekawati Marlina di website pdii.lipi.go.id