Strategi respons terhadap permintaan kustomer mendefinisikan bagaimana suatu perusahaan industri manufaktur akan memberikan tanggapan atau respons terhadap permintaan konsumen. Pada dasarnya strategi respons terhadap permintaan konsumen dapat diklasifikasi ke dalam lima kategori, sebagai berikut:

  • Design-to-Order (or Engineer-to-Order)
  • Make-to-Order
  • Assemble-to-Order
  • Make-to-Stock
  • Make-to-Demand

Berikut ini akan dikemukakan penjelasan singkat tentang kelima strategi respons terhadap permintaan konsumen diatas:

Design-to-Order

Dalam strategi Design-to-Order atau kadang-kadang disebut sebagai Engineer-to-Order, perusahaan tidak membuat produk itu sebelumnya. Dengan demikian bagi perusahaan yang memilih strategi ini tidak mempunyai sistem inventory, karena produk baru akan didesign dan diproduksi setelah ada permintaan pelanggan. Biasanya pihak pelanggan akan meminta proposal yang berkaitan dengan biaya dan waktu pembuatan produk dari produser. Apabila ada pesanan dari pelanggan, maka pihak produser (perusahaan industri) akan mengembangkan desain untuk produk yang diminta -termasuk pertimbangan waktu dan biaya-, kemudian menerima persetujuan tentang desain itu dari pihak pelanggan, selanjutnya akan memesan material-material yang diperlukan untuk pembuatan produk, melakukan proses produksi atau pembuatan produk, dan mengirim produk itu ke pelanggan.

Dalam strategi Design-to-Order (or Engineer-to-Order), perusahaan tidak mempunyai resiko berkaitan dengan investasi inventory. Strategi respons terhadap permintaan konsumen berdasarkan Design-to-Order atau Engineer-to-Order akan cocok untuk produk-produk baru dan/atau unik secara total. Produk-produk seperti: kapal, komputer khusus untuk keperluan militer, gedung bertingkat, jembatan, dan produk sejenis yang baru dan/atau unik lainnya dapat dimasukkan ke dalam kategori Design-to-Order atau Engineer-to-Order.


Made-to-Order

Perusahaan industri yang memilih strategi Make-to-Order hanya mempunyai design produk dan beberapa material standar dalam sistem inventory, dari produk-produk yang telah dibuat sebelumnya. Aktivitas proses pembuatan produk bersifat khusus yang disesuaikan dengan setiap pesanan dari pelanggan. Siklus pesanan (order cycle) dimulai ketika pelanggan menspesifikasikan produk yang telah dipesan; dalam hal ini produser dapat membantu pelanggan untuk menyiapkan spesifikasi sesuai dengan kebutuhan pelanggan itu. Produser menawarkan harga dan waktu penyerahan berdasarkan pada permintaan pelanggan itu. Proses pengajuan proposal dalam strategi Make-to-Order tentu saja lebih sederhana dan biaya akan lebih murah apabila dibandingkan dengan pengajuan proposal pada strategi Design-to-Order. Dalam strategi Made-to-Order, produser dan pelanggan dapat sering berdiskusi untuk mencari alternatif reduksi biaya, reduksi waktu pengiriman, dan/atau memenuhi kebutuhan aktual dari pelanggan.

Apabila pelanggan telah menyetujui proposal dari produser, maka proses pembuatan produk dapat dilakukan, dan selanjutnya dikirim ke pelanggan. Dalam strategi Make-to-Order, perusahaan mempunyai resiko yang sangat kecil berkaitan dengan investasi inventory.Sebagaimana halnya dengan strategi Design-to-Order, fokus operasionalnya adalah pada pesanan spesifik dari pelanggan dan bukan pada parts. Penggantian parts mesin, produk-produk kerajinan tangan berdasarkan pesanan khusus, riset pasar bagi perusahaan tertentu, dan pelatihan dalam perusahaan (in-house traning) berdasarkan kebutuhan spesifik dari pelanggan, dapat dikategorikan kedalam strategi Make-to-Order.

Assemble-to-Order

Perusahaan industri yang memilih strategi Assemble-to-Order akan memiliki inventory yang terdiri dari semua sub-assemblies atau modul-modul (modules). Apabila pelanggan memesan produk, maka produser dapat secara cepat merakit modul-modul yang ada dan mengirimkan dalam bentuk produk akhir ke pelanggan. Strategi Assemble-to-Order digunakan oleh perusahaan-perusahaan industri yang memiliki produk modular, dimana beberapa produk akhir membentuk modul-modul umum (common modules). Dalam praktik, permintaan untuk modul-modul dapat diramalkan secara lebih akurat dibandingkan peramalan untuk produk akhir. Dengan demikian perusahaan industri ini dapat menanggapi permintaan pelanggan secara lebih efisien melalui peramalan dan penyimpanan modul-modul dalam inventory, kemudian merakit produk hanya berdasarkan pada penerimaan pesanan dari pelanggan.

Dalam strategi Assemble-to-Order, perusahaan industri memiliki resiko yang moderat berkaitan dengan investasi inventory. Fokus operasional dari perusahaan industri yang memilih strategi Assemble-to-Order adalah pada modul-modul dan parts. Industri otomotif, komputer komersial, restoran sepert McDonal’s dapat dikategorikan dalam strategi Assemble-to-Order.

Make-to-Stock

Perusahaan industri yang memilih strategi Make-to-Stock akan memiliki inventory yang terdiri dari produk akhir (finished product) untuk dapat dikirim dentgan segera apabila ada permintaan dari pelanggan. Dalam strategi Make-to-Stock, siklus waktu (cycle time) dimulai dari produser menspesifikasikan produk, memperoleh bahan baku (raw material), dan memproduksi produk akhir untuk disimpan dalam stock. Apabila pelanggan memesan produk, maka dengan asumsi bahwa produk itu telah disimpan dalam stock, produser akan mengirim produk itu dengan segera yang diambil dari stock.

Dalam strategi Make-to-Stock, perusahaan industri memiliki resiko yang tinggi berkaitan dengan investasi inventory, karena pesanan pelanggan secara aktual tidak dapat diidentifikasi secara tepat dalam proses produksi. Permintaan aktual dari pelanggan hanya dapat diramalkan, dimana seringkali tingkat aktual dari produksi hanya berkorelasi rendah dengan pesanan pelanggan aktual yang diterima. Berkaitan dengan hal ini, maka bagi perusahaan industri yang memiliki strategi Make-to-Stock harus membangun sistem informasi pasar yang andal agar dapat meramalkan secara lebih akurat tentang permintaan aktual dari konsumen.

Fokus operasional dari perusahaan industri yang memilih strategi Make-to-Stock adalah pada pengisian kembali inventory (replenishment of inventory), dimana sistem produksi menetapkan tingkat inventori (inventory level) berdasarkan pada antisipasi pesanan yang akan datang, bukan berdasarkan pesanan sekarang yang ada. Industri untuk barang-barang konsumsi (consumer’s goods) seperti pakaian, peralatan rumah tangga, telepon, produk makanan, mainan anak, dapat dikategorikan kedalam strategi Make-to-Stock.

Make-to-Demand

Strategi Make-to-Demand dapat dianggap sebagai suatu strategi baru yang dikebangkan dalam perusahaan industri, dimana respons terhadap permintaan pelanggan secara total adalah fleksibel. Dalam strategi Make-to-Demand, penyerahan produk dari perusahaan berkaitan dengan kualitas dan waktu penyerahan (delivery time) secara tepat berdasarkan keinginan dari pelanggan.

Strategi ini adalah responsif secara lengkap (completely responsive) terhadap pesanan pelanggan (sesuai spesifikasi yang diinginkan oleh pelanggan), tetapi dapat menyerahkan produk dengan kecepatan mendekati startegi Make-to-Stock. Perusahaan industri dapat menggunakan kombinasi dari berbagai strategi yang ada untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Dalam staretgi Make-to-Demand, ketergantungan pada situasi kompetitif, design, bahan baku (raw materials), komponen-komponen, assemblies, dan/atau produk akhir, dapat disimpan dalam inventory, asal tetap memperhitungkan efisiensi dan efektifitas dari sistem inventory itu.  Strategi Make-to-Demand diciptakan untuk menanggapi kompetisi sekarang yang sangat ketat dalam dunia industri tertutama dalam berkaitan dengan waktu penyerahan (time-based competition).

Strategi Make-to-Demand dapat diterapkan pada produk-produk industri yang telah berada pada tahap menurun (declining stage) dari siklus hidup produk (product life cycle), karena produk-produk itu memerlukan features dan pilihan-pilihan (options) yang lebih banyak disertai dengan harga yang lebih rendah serta waktu penyerahan lebih cepat agar dapat bertahan di pasar yang amat sangat kompetitif itu. Sistem produksi modern seperti Just-In-Time (JIT) atau Lean Manufacturing menerapkan strategi Make-to-Demand.

Sumber:
Production & Inventory Management
For Supply Chain Professionals – Vencent Gaspersz