Pertanyaan dimulai dengan mengapa ada kebutuhan untuk berpikir secara system dalam menghadapi banyak keputusan pada situasi saat ini? Dan mengapa metode analitik tradisional yang digunakan oleh para insinyur, ekonom, dan akuntan untuk 100 tahun terakhir tidak lagi memadai untuk solusi yang ‘benar’?

Peningkatan Kompleksitas dalam Membuat Keputusan Masa Kini.

“Kompleksitas” oleh WR Ashby, salah satu bapak dari pemikiran sistem modern, didefinisikan sebagai banyaknya informasi yang diperlukan untuk menggambarkan sesuatu (permasalahan), termasuk jumlah bagian dan keterkaitan mereka yang membentuk permasalahan tersebut ‘seluruhnya’.

Sebelumnya, hampir separoh abad 20 kita tidak mengambil contoh kesadaran tentang pentingnya berfikir secara kompleks bahkan dalam membuat keputusan pada saat ini, termasuk membiarkan keputusan pemerintah atau bisnis berlangsung seadanya. Disana, kita sedikit sekali yang menyadari bahwa kemajuan teknologi telah meningkatkan interaksi yang begitu kompleks. Contohnya, inovasi dalam bidang pertanian, industri kimia, kemajuan proses, teknik, dan perjalanan udara telah menggerogoti lingkungan alam kita pada skala besar, dan itu tak terduga hingga sekarang ini sampai manusia mulai menyadari adanya dampak potensial yang besar terhadap masa depan umat manusia itu sendiri.

Demikian pula dengan ledakan teknologi komunikasi dan informasi dari sejak diperkenalkannya televisi, komputer, teknologi pengolahan data, komunikasi satelit, dan komunikasi elektronik melalui Internet telah merevolusi setiap individu termasuk kegiatan-kegiatannya yang bersifat komersial maupun dunia hiburan. Dampaknya, budaya baik di negara maju dan negara berkembang berubah drastis, menyamaratakan umat manusia termasuk efek yang mendalam pada perubahan tata nilai-nilai moral dan adat istiadat kemanusiaan.

Percepatan inovasi dalam teknologi dan komunikasi sudah jelas telah meningkatkan kompleksitas di berbagai infrastruktur besar yang mengatur kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari layanan pasokan air, gas, termasuk potensi limbah, transportasi, kesehatan, kepolisian, pemadam kebakaran, darurat sipil, pertahanan, pendidikan, termasuk dengan banyak peraturan pemerintah dan undang-undang, dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka memang berdiri sendiri. Namun mereka sangat saling tergantung satu sama yang lain. Sebuah perubahan terencana kebijakan atau kegagalan diantara salah satunya, bisa jadi akan memiliki konsekuensi serius bagi yang lain.

Kompleksitas tidak hanya itu saja. Dari dunia perbankan setelah perdagangan bebas, hingga penetrasi dari sindikat kejahatan, seperti Mafia, Triad, Yakuza Jepang, atau Bos-bos Rusia ke bisnis usaha legal, termasuk juga dalam bidang bursa efek. Seiring dengan perkembangan ini, jurang antara neigara-negara maju dan negara-negara ketiga semakin lebar. Negara-negara maju terus meningkatkan permintaan mereka untuk pasokan bahan baku dan energi, sifat konsumtif dan mentalitas meraka terhadap negara-negara miskin atau negara berkembang miskin dijadikan sampah, di mana pertanian tradisional telah digantikan dengan penanaman tanaman komersial (seperti sawit di Indonesia), dan akibat dari harga dunia berfluktuasi secara luas, jadilah negara-negara miskin dan berkembang itu berhutang terus menerus terhadap negara-negara maju dan merekapun putus asa terhadap kemiskinan penduduknya.

Belum lagi dengan peningkatan jumlah penduduk, maka lengkaplah sudah kompleksitas ini dengan berbagai masalahnya mulai dari runtuhnya blok kekuasaan komunis, kebangkitan etnis berbasis nasionalisme (separatis) dan fundamentalisme agama. Ada lagi meletusnya konflik berdarah dan pemberontakan, emansipasi perempuan hingga krisis ekonomi yang meruntuhkan sistem perbankan di beberapa negara maju dan sinisme akan munculnya ekonomi Asia yang dapat mengancam ekonomi dunia, termasuk masalah ketidakpastian dari pertanyaan yang belum terjawab dari rekayasa genetika baik di bidang pertanian dan kedokteran, ancaman lingkungan (seperti penggundulan hutan, penipisan ozon, efek rumah kaca) dari sebuah planet (bumi) yang terus dieksploitasi dan penyalahgunakannya demi keuntungan, keserakahan, pertumbuhan ekonomi, dan kekuasaan politik dan hegemoni.

Dengan demikian dunia sekarang ini telah meningkat dalam kompleksitas dan saling ketergantungan ke titik di mana metode tradisional pemecahan masalah berdasarkan model sebab-akibat atau model reduksi sudah tidak dapat lagi digunakan untuk mengatasi persoalan saat ini. Disinilah cara berfikir secara system diperlukan.

Sumber: Management science, Decision making through systems thinking karya Hans G. Daellenbach and Donald C. McNickle