Sektor transportasi adalah salah satu sektor yang menyerap energi dalam jumlah besar. Berbagai jenis kendaraan untuk transportasi masih didominasi dengan pemakaian logam seperti besi dan baja untuk kerangka beserta mesin konvensionalnya. Sektor inilah yang hingga saat ini masih rendah efisiensinya dalam mengkonversi bahan bakar menjadi energi kinetik.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa besar kepedulian suatu negara terhadap masalah inefisiensi di sektor tersebut serta seberapa besar dana yang dipersiapkan untuk mengatasinya? Jawaban yang mungkin tepat untuk itu adalah dengan melihat langkah-langkah Amerika Serikat.

Beberapa waktu lalu, presiden Obama menyatakan telah mempersiapkan dana sebesar 14,2 juta US dolar untuk mendorong dan mempercepat penelitian dan pengembangan material untuk pembuatan mobil masa depan yang lebih maju. Material ini harus lebih kuat dan lebih ringan dibandingkan material yang saat ini banyak dipergunakan di industri otomotif.

Riset yang dilakukan oleh Departemen Energi negara tersebut akan fokus pada tiga hal utama. Yang pertaman yaitu modeling komposit serat karbon, yang akan mengurangi berat kendaraan hingga 50% jika dibandingkan dengan baja yang saat ini umum digunakan untuk kerangka, bodi, dan bahkan sedikit interiornya.

Riset selanjutnya akan difokuskan pada pengembangan logam campuran yang lebih baik untuk mesin-mesin otomotif dan mesin berat lainnya. Sedangkan riset terakhir difokuskan pada modeling awal untuk mendapatkan baja yang lebih baik. Diperkirakan pemakaian baja ini akan mengurangi berat kendaraan hingga 25%.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat jelas merupakan langkah maju ke depan. Selain hasil riset tersebut akan mendorong industri otomotif menjadi lebih kompetitif di pasar global, hasil riset tersebut juga mengurangi ketergantungan negara itu terhadap minyak bumi, menghemat belanja negara serta menurunkan emisi karbon.

Hasil riset tersebut juga dimungkinkan diterapkan pada berbagai jenis kendaraan yang lebih ramah lingkungan lainnya seperti mobil hybrid dan listrik. Pemakaian logam campuran seperti magnesium, aluminium dan sebagainya dengan karakter yang lebih baik dan ringan, akan semakin mengurangi berat kendaraan dan tentunya menambah jarak tempuh.

Amerika Serikat memang tidak ingin “kelabakan” ketika minyak bumi semakin mahal dan sulit didapat, dan salah satunya langkahnya adalah dengan mempersiapkan teknologi yang lebih baik dan siap digunakan pada saat minyak bumi sudah tidak ekonomis lagi. Lalu bagaimana dengan Indonesia? (planethijau.com/ humasristek)