Jika diketahui bahwa system itu adalah kumpulan elemen yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Blanchard:1991) maka system itu akan terdiri dari berbagai elemen yang membentuk satu kesatuan, kemudian ada interaksi saling ketergantungan dan kerjasama antar elemen, ia juga memiliki mekanisme/transformasi, dan ia akan memiliki lingkungan yang mengakibatkan atau yang terlibat dinamika pada system tersebut. Selain elemen pembentuk system tersebut, ada juga atribut yang membawa sifat atau perwujudan yang dapat dilihat dari elemen. Atribut ini yang membentuk ciri suatu system disamping relasi yang mengkaitkannya.

Contoh misalnya adalah pengadaan mesin pres (tekan) kapasitas 1000 KN ke pabrik kita jika diketahui bahwa biaya yang paling ekonomis adalah dengan mendatangkannya dari pabrik pembuatnya di Jepang, kemudian mengirimkannya ke Indonesia menggunakan transportasi laut, dan setelah sampai di pelabuhan bongkar barang tersebut diangkut menggunakan truk hingga peletakannya di pondasi dalam pabrik kita.

Dari contoh kasus ini dapat diketahui bahwa inputnya adalah pengadaan/pembelian mesin press dari Jepang, dan parameternya adalah harga paling ekonomis, kualitas paling baik, dan waktu transportasi yang pendek dibandingkan harus mengimpor dari Eropa atau Amerika. Belum lagi jika ada jaminan (garansi after sales services) maka dari Jepang adalah lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan yang lain.

Adapun hubungan atau relationships yang terjadi dalam proses tersebut adalah dimulai dari keterlibatan elemen‐elemen yang terkait, seperti supplier mesin press tersebut, perusahaan transportasi di Jepang yang akan menjemput/mengambil barang tersebut kemudian mengirimkannya ke Indonesia, disitu juga ada pihak pelayaran, institusi Bea dan Cukai yang nanti akan memeriksa barang impor, Bank, Agen Kapal di Indonesia, Perusahaan Penyedia Jasa Kepabeanan (PPJK), dan Perusahan Transportasi yang akan mengantar barang tersebut hingga di lokasi penempatannya.

Adapun outputnya adalah barang tersebut tiba dengan selamat di lokasi pabrik dan siap dioperasikan setelah dipasang dan dilakukan uji coba setelah pembelian. Hasil produksinya pun sesuai dengan yang diharapkan dari mesin baru ini. Untuk mendapatkan output ini sudah pasti ada konsekwensi yang harus dihadapi, dan dalam hal ini sudah pasti diperlukan kontrol agar waktu pemasangan itu sesuai dengan target, metode pembayaran pembelian yang sesuai (ringan), ada garansi setelah pembelian termasuk spare-part-nya, ada pelatihan teknik, asuransi, sampai mesin tersebut benar‐benar dapat beroperasi sesuai dengan keinginan.

Ketika menggambarkan hubungan-hubungannya, akan ada gambaran‐gambaran yang terhubung secara teknis maupun logis, ada juga hubungan/relationship secara ekonomis. Contohnya misalnya dalam pemilihan perusahaan jasa transportasi atau PPJK yang harganya paling kompetitif, atau bisa juga memilih harga lebih mahal namun waktunya lebih cepat dalam pengantarannya. Termasuk didalamnya simulasi pinjaman modal dan pengembaliannya.

Semua itu perlu dimodelkan mulai dari simulasi biaya transportasinya, transit time v/s downtime, hingga yang berhubungan dengan biaya investasi untuk pendanaan dan target yang diinginkannya. Tanpa pemodelan maka sama saja dengan perencanaan buta.