Rigging memang belum memiliki terjemahan yang tepat dalam satu kata bahasa Indonesia, sehingga artinya terpaksa diuraikan agar lebih jelas, yaitu pekerjaan di ketinggian dan pengangkatan barang dengan peralatan berat. Dalam buku Manual Rigging karya Sri Widharto rigging dialih-bahasakan menjadi “punggah” dari bahasa Jawa yang artinya naik atau menaikkan.

Pekerjaan Rigging di Offshore

Dalam melaksanakan pekerjaan rigging ini tidak hanya memerlukan keterampilan khusus dalam teknik punggah, tetapi juga peralat/piranti khusus, termasuk didalamnya pengetahuan tentang sifat/prilaku khusus yaitu “keberanian” dan berurat syaraf baja, atau “andrenalin”. Mengapa demikian, karena pekerjaan tinggi sangat menakutkan bagi orang awam, sangat berat dan sangat menyulitkan. Pekerjaan ini beresiko tinggi, sehingga jika salah dalam perhitungan atau panik dalam mengerjakannya, maka fatal akibatnya bagi keselamatan diri sendiri sebagai pelaksana, orang-orang yang berada disekitarnya, peralatan yang digunakannya dan yang jelas jika ada barang yang harus diangkat.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang diperlukan dalam pekerjaan rigging harus dalam kondisi prima dan memerlukan pengawasan serta pengecekan berkala. Sifat atau sikap menganggap enteng, sepele, sok tahu, lengah, lalai, malas, atau kondisi fisik yang kurang fit, mengantuk, fertigo, epilepsi harus benar-benar tidak ada (zero tolerance).

Di Indonesia, sekolah atau pendidikan formal tentang pekerjaan rigging masih belum banyak, padahal keterampilan dalam pekerjaan ini sangat banyak diperlukan dalam pembangunan maupun kegiatan pemeliharaan, apalagi jarang sekali ada buku panduannya.