Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang gagal letaknya di bidang rohani. Apa yang biasa orang pikirkan, oleh seseorang menentukan apa yang akan dicapainya. Ini berlaku di lapangan niaga maupun lapangan-lapangan lain. Jika seseorang dapat berpikir dengan cerdas dan kreatif, maka orang tersebut akan mendapat hasil-hasil tertentu. Jika pikiran-pikirannya tidak menentu dan tidak diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, maka hasilnya pun akan mengecewakan.

Kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia yang sering disebut dengan daya khayal, dan dengan daya khayal inilah manusia dapat mencapai kemauan yang tinggi dan kesanggupannya dalam menemukan segala hal.  Daya khayal dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu daya khayal sintesis dan daya khayal kreatif. Daya khayal sintesis adalah untuk tidak menciptakan hal yang baru, tetapi membentuk dan menyusun yang lama dalam bentuk kombinasi baru. Sedangkan daya khayal kreatif adalah menciptakan hal-hal baru terutama apabila daya khayal sintesis tidak bisa bekerja dalam memecahkan suatu masalah.

Melalui daya khayal kreatif ini  alam pikiran manusia yang terbatas dapat berhubungan langsung dengan alam pikiran halusnya. Barangkali alam pikiran inilah yang menyalurkan inspirasi atau ilham dan menyampaikan gagasan baru sebagai hasilnya menjadi alat bagi manusia untuk menyesuaikan getaran dalam dirinya dengan getaran dalam diri orang lain. Daya khayal biasanya bekerja secara otomatis dan hanya bekerja jika alam pikiran yang sadar bergerak dengan kecepatan yang luar biasa seperti mendapatkan dorongan dari suatu emosi yang ditimbulkan oleh keinginan yang kuat. Dalam hubungan ini, berpikir kreatifnya seorang dapat merombak dan kemudian mendorongnya dalam pengembangan lingkungan menjadi berhasil.

Untuk kreativitas, ia dapat dikembangkan melalui peningkatan jumlah dan ragam masukan ke otak, terutama tentang hal-hal yang baru, dengan memanfaatkan daya ingat, daya khayal dan daya serap dari otak akan dapat ditumbuhkan berbagai ide baru menuju kreativitas.

Kreativitas adalah karya yang merupakan hasil pemikiran dan gagasan. Ada rangkaian proses yang panjang dan harus digarap terlebih dahulu sebelum suatu gagasan menjadi suatu karya. Rangkaian tersebut antara lain meliputi fiksasi (pengikatan, pemantapan) dan formulasi gagasan, penyusunan rencana, dan program tindakan nyata yang harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Kreativitas merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Namun, kemampuan ini berbeda dari satu orang terhadap orang  lainnya.  Kemampuan dan bakat merupakan dasarnya, tetapi pengetahuan dari lingkungannya dapat juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Selama ini ada anggapan yang salah mengenai orang yang kreatif. Ada yang mengatakan hanya orang jenius/pintar saja yang memiliki kreativitas. Kreativitas bukanlah suatu bakat misterius yang diperuntukkan hanya bagi segelintir orang. Mengingat kreativitas merupakan suatu cara pandang yang sering kali justru dilakukan secara tidak logis. Proses ini melibatkan hubungan antar banyak hal dimana orang lain kadang-kadang tidak atau belum memikirkannya.

Yang dimaksud dengan kreativitas dalam hal ini adalah menghadirkan suatu gagasan baru. Kreativitas itu merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Kita harus mengetahui bahwa kreativitas tiap-tiap orang berbeda-beda, kemampuan seseorang dalam bakat, pengetahuan, dan lingkungan juga dapat mempengaruhi kreativitas.  Kreativitas merupakan sumber yang penting dari kekuatan persaingan  karena adanya perubahan lingkungan.

Menurut Goman (1991), Inovasi merupakan penerapan secara praktis gagasan kreatif.  Inovasi tercipta karena adanya kreativitas yang tinggi. Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam kehidupan.

Randsepp, menyebutkan ciri-ciri tentang pemikiran kreatif sebagai berikut :

  • sensitif terhadap masalah-masalah,
  • mampu menghasilkan sejumlah ide besar,
  • fleksibel,
  • keaslian
  • mau mendengarkan perasaan,
  • keterbukaan pada gejala bawah sadar,
  • mempunyai motivasi,
  • bebas dari rasa takut gagal,
  • mampu berkonsentrasi, dan
  • mempunyai kemampuan memilih.

Seorang  yang memliki daya pengembangan kreativitas yang tinggi akan dapat merombak dan mendorongnya di dalam pengembangan lingkungan usahanya menjadi berhasil. Karena dengan kreativitas seorang dapat

  • meningkatkan efisiensi kerja,
  • meningkatkan inisiatif,
  • meningkatkan penampilan,
  • meningkatkan mutu produk, dan
  • meningkatkan keuntungan.

Untuk memacu kreativitas yang tinggi ada 4 tahapan menurut Edward de Bono (1970) dalam proses kreatif, yaitu

a) Latar Belakang atau Akumulasi Pengetahuan.

Kreasi yang baik biasanya didahului oleh penyelidikan dan pengumpulan informasi. Hal ini meliputi membaca, berbicara dengan orang lain, menghadiri pertemuan pro-fesional dan penyerapan informasi sehubungan dengan masalah yang tengah digeluti. Sebagai tambahan dapat juga menerjuni lahan yang berbeda dengan masalah kita karena hal ini dapat memperluas wawasan dan memberikan sudut pandang yang berbeda-beda.

b) Proses Inkubasi   

Dalam tahap ini seseorang tidak selalu harus terus-menerus memikirkan masalah yang tengah dihadapinya, tetapi ia dapat sambil melakukan kegiatan lain, yang biasa, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah. Akan tetapi, ada waktu-waktu tertentu di mana ia harus menyempatkan diri memikirkan masalah ini untuk pemecahannya.

c) Melahirkan Ide

Ide atau solusi yang seirama ini dicari-cari mulai ditemukan. Terkadang ide muncul pada saat yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang ada. Ia bisa muncul tiba-tiba. Di sini ia harus dapat dengan cepat dan tanggap menangkap dan memformulasikan baik ide maupun pemecahan masalah lanjutan dari ide tersebut.

d. Evaluasi dan Implementasi  

Tahap ini merupakan tahap  tersulit dalam tahapan-tahapan proses kreativitas karena dalam tahap ini seseorang harus lebih serius, disiplin, dan benar-benar berkonsentrasi. Seseorang yang sukses dapat mengidentifikasi ide-ide yang mungkin dapat dikerjakan dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Lebih penting lagi, ia tidak menyerah begitu saja bila menghadapi hambatan. Bahkan biasanya ia baru akan berhasil mengembangkan ide-ide setelah beberapa kali mencoba. Hal penting lain dalam tahapan ini adalah di mana seseorang mencoba-coba kembali ide-ide sampai menemukan bentuk finalnya karena ide yang muncul pada tahap (c) tadi biasanya  dalam bentuk yang tidak sempurna. Jadi, masih perlu dimodifikasi dan diuji untuk mendapatkan bentuk yang baku dan matang dari ide tersebut.

Menurut Kao (1989), ada beberapa hal yang dapat merintangi atau menghambat pimikiran kreativitas dilihat dari prilaku seorang adalah sebagai berikut :

  • Mengagungkan tradisi dan budaya yang dibuat,
  • Memperkecil ketersediaan sumber-sumber yang dibutuhkan,
  • Lebih menekankan pada prilaku struktur birokrasi,
  • Menekankan pada nilai yang menghalangi pengambilan resiko,
  • Lebih menyukai spesialisasi,
  • Komunikasi yang lemah,
  • Mematikan sesuatu contoh,
  • Sistem pengendalian yang kuat atau tidak lentur,
  • Menekankan denda atau hukuman atas kegagalan atau kesalahan,
  • Mengawasi aktivitas kreativitas, dan
  • Menekankan batas waktu.

Untuk menghindari hal-hal di atas, kita harus membuang sejauh mungkin setiap hambatan mental yang mengganggu proses berpikir kita. Daya imajinasi baru mempunyai arti bagi hidup kita apabila bercampur dan bekerjasama dengan daya pikiran kita. Pikiran kita dapat berakibat dua hal, mungkin menolong mungkin juga menghambat usaha kita.

Pemikiran yang simpang siur menunjukkan pemikiran yang tidak kreatif. Pemikiran kita akan kreatif apabila proses berpikir kita berlangsung secara ilmiah. Proses berfikir ilmiah berlangsung dengan langkah-langkah yang sistematis, berorientasi pada tujuan serta menggunkanan  pola atau metode tertentu untuk memecahkan masalah. Pada dasarnya, pemikiran ilmiah dapat berlangsung dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Merumuskan atau mengenang tujuan, keinginan, dan kebutuhan baik bagi diri sendiri maupun bagi pihak lain.
  • Merumuskan atau mengenang permasalahan yang berhubungan dengan usaha untuk mencapai atau memenuhi tujuan, keinginan dan kebutuhan di atas.
  • Menghimpun atau mengenang fakta-fakta obyektif yang berhubungan dengan obyek yang sedang kita pikirkan.
  • Mengolah  fakta-fakta itu dengan pola berpikir tertentu, baik secara induktif ataupun deduktif, atau mencari hubungan antarfakta sehingga ditemukan berbagai alternatif.
  • Memilih alternatif yang dirasa paling tepat.
  • Menguji alternative itu dengan mempertimbangkan hukum sebab akibat sehingga ditemukan manfaat alternatif itu bagi kehidupan.
  • Menemukan dan meyakini gagasan.
  • Mencetuskan gagasan itu, baik secara lisan maupun tertulis.

Kalau kita perhatikan proses berpikir yang digambarkan di atas, ternyata berpikir ilmiah itu masih melibatkan fungsi-fungsi kejiwaan yang lain, misalnya keinginan, perasaan, kemauan, imajinasi, ingatan dan perhatian. Oleh karena itu, pemikiran kreatif harus ditunjang oleh suatu kepribadian yang kuat.

Menurut Solomom dan Winslow (1988)  ada beberapa ciri seseorang yang kreatif itu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Pintar tetapi tak harus brilian  karena kreativitas tidak selalu  secara langsung berhubungan dengan tingginya intelegensi seseorang.
  • Berkemampuan baik dalam menjalankan ide-ide yang berbeda dalam waktu yang singkat.
  • Memiliki  pandangan positif terhadap diri sendiri.  Dengan kata lain, menyukai dirinya dan memiliki rasa percaya diri.
  • Cenderung kaya kehidupan fantasi.
  • Termotivasi oleh masalah-masalah yang menantang.
  • Dapat memendam keputusan sampai cukup fakta terkumpul.
  • Menghargai kebebasan dan tidak hanya memerlukan persetujuan rekan lainnya.
  • Peka terhadap lingkungan dan perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya.
  • Fleksibel.
  • Lebih mementingkan arti dan implikasi sebuah problem daripada detailnya.

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membantu mengembangkan kemampuan pribadi dalam program peningkatan kreativitas sebagaimana dikemukakan oleh James L. Adams (1986) :

a. Mengenali hubungan

Banyak penemuan dan inovasi lahir sebagai cara pandang terhadap suatu hubungan yang baru dan berbeda antara objek, proses, bahan, teknologi, dan orang. Seperti mencampurkan aroma bunga melati dengan air teh kemudian dibotolkan menjadi teh botol yang harum dan segar rasanya. Untuk membantu meningkatkan kreativitas, kita dapat melakukan cara  pandang kita yang statis terhadap hubungan orang dan lingkungan yang telah ada. Dari sini kita coba melihat mereka dengan cara pandang yang baru dan berbeda.  Orang yang kreatif akan memiliki intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru dan berbeda dari fenomena tersebut.  Hubungan ini nantinya dapat emperlihatkan ide-ide, produk dan jasa yang baru. Sebagai contoh, kita dapat melakukan latihan dengan melihat hubungan antara pasangan-pasangan: suami-istri, kue coklat dan es krim vanili, atlet dan pelatih serta manajer de-ngan buruh.

b. Pengembangan Perspektif Fungsional

Kita dapat melihat adanya suatu perspektif yang fungsional dari benda dan orang. Seseorang yang kreatif akan dapat melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi keinginannya dan mem-bantu menyelesaikan suatu pekerjaan. Misalnya, sering secara tidak sadar kita menggunakan pisau dapur untuk memasang baut gara-gara palu yang kita cari tidak ketemu. Cara lain, kita harus me-mulainya dari cara pandang yang nonkonvensional dan dari perspektif yang berbeda. Sebagai contoh, cobalah sebutkan fungsi lain dari sebuah kursi, batang korek api, dan lain-lain.

c. Gunakan Akal

Fungsi otak pada bagian yang terpisah antara kiri dan kanan telah dilakukan sejak tahun 1950-an dan tahun 1960-an.  Otak bagian kanan dipakai untuk hal-hal seperi analogi, imajinasi, dan lain-lain. Sedangkan otak bagian kiri dipakai untuk kerja-kerja seperti analisis, melakukan pendekatan yang rasional terhadap pemecahan masalah, dan lain-lain. Meski secara fungsi ia berbeda, tetapi dalam kerjanya ia harus saling berhubungan. Proses kreativitas meliputi pemikiran logis dan anlitis terhadap pengetahuan, evaluasi dan tahap-tahap implementasi. Jadi, bila kita ingin lebih kreatif, kita harus melatih dan mengembangkankemampuan kedua belah otak kita tersebut.

d. Hapus Perasaan Ragu-ragu

Kebiasaan mental yang membatasi dan menghambat pemikiran kreatif, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Pemikiran  Lain,   Perkembangan kehidupan seseorang banyak terpenuhi  oleh  hal-hal yang tidak pasti dan meragukan. Banyak orang yang menyerah dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi. Bagi orang yang kreatif lebih baik belajar menerima keadaan tersebut dalam hidupnya, bahkan mereka sering menemukan sesuatu yang berharga dalam kondisi tersebut.

2. Mencari Selamat, Dalam kehidupannya orang akan cenderung menghindari risiko seminimal mungkin, tetapi seorang inovator akan senang menghadapi risiko, misalnya risiko kesalahan  atau  kegagalan. Bahkan kegagalan dianggap sebagai permainan yang menarik yang dapat dijadikan guru yang baik untuk keberhasilan di masa yang akan datang.

3. Stereotipe, Sepertinya sudah ada ketentuan atau karakteristik tertentu untuk suatu hal, begitu pula halnya akan kesuksesan yang dapat diraih. Karena keterbatasan ini, seseorang yang ingin melakukan suatu hal, karena asas  stereotipe ini, akan terlimitasi cara pandang dan persepsinya terhadap kemungkinan lain yang sebenarnya dapat diraih.

4. Pemikiran Kemungkinan/Probabilitas, Guna memperoleh keamanan dalam membuat keputusan, seseorang akan cenderung percaya kepada teori kemungkinan.  Bila berlebihan, maka hal ini hanya akan menghambat seseorang mencari kesempatan yang hanya akan datang sekali saja dalam hidupnya.

Menurut pendapat Kao (1989), ada beberapa hal yang dapat menumbuhkan bahkan mengembangkan pemikiran kreativitas dilihat dari prilaku seseorang, sebagai berikut :

  • Menciptakan struktur organisasi terbuka dan desentraslisasi,
  • Mendukung budaya yang memberi kesempatan atas percobaan,
  • Menekankan pada peran dari pemegang atau juara,
  • Tersedianya semua sumber atas sesuatu inisiatif baru,
  • Mendorong sikap eksperimental,
  • Berikan kebebasan,
  • Tanpa bebas waktu,
  • Memberikan hal-hal yang berhasil,
  • Hindari mematikan ide-ide baru,
  • Singkirkan birokrasi dari pengalokasian sumber,
  • Beri penghargaan atas suatu keberhasilan,
  • Ciptakan budaya pengambilan resiko,
  • Kurangi hal-hal yang bersifat administratife,
  • Memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan,
  • Komunikasi efektif pada semua tingkatan, dan
  • Delegasikan tanggung jawab untuk mulai tugas baru.

Menurut analisis Guilford,  ada lima faktor sifat yang menjadi cirri kemampuan berpikir kreatif :

  1. fluency (kelancaran), adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan,
  2. fleksibility (keluwesan), adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah,
  3. originality (keaslian), adalah kemampuan untuk mencetus  gagasan dengan cara asli dan tidak klise,
  4. elaboration (penguraian), adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara lebih rinci,
  5. redefinition (Perumusan kembali), adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan  apa yang sudah diketahui oleh orang banyak,

Sedangkan manusia yang memiliki pemikiran kreatif, menurut A. Roe (Kao, 1989), memilki ciri-ciri sebagai berikut :

  • melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa,
  • keingintahuan,
  • menerima dan menyesuaikan yang kelihatannya berlawanan,
  • percaya pada diri sendiri,
  • tekun,
  • dapat menerima perbedaan,
  • keterbukaan pada pengalaman,
  • independen dalam pertimbangan, pemikiran, dan tindakan,
  • membutuhkan dan menerima otonomi,
  • tidak hanya tunduk pada stAndar dan pengawasan kelompok, dan
  • Mau mengambil resiko yang telah diperhitungkan.

Untuk Inovasi, dalam prosesnya, penerapan kemampuan  berinovasi menurut  Kuratko (1955) ada empat jenis inovasi, yaitu penemuan ( Invensi), pengembangan  (Eksistensi), Penggandaan  (Duplikasi), dan Sintesis.

Adapun beberapa faktor yang dapat mendukung  tercapainya keberhasilan penerapan kemampuan inovasi-inovasi menurut James Brian Quinn (1955) adalah  sebagai berikut:

  • Iklim  inovasi dan visi, dimana perusahaan yang  inovasi mempunyai visi yang singkat dan jelas serta memberi dukungan nyata  untuk terwujudnya suasana inovasi.
  • Orientasinya pada pasar. Perusahaan yang berinovasi melandaskan visi mereka yang ada pada pasar.
  • Organisasi yang tetap datar dan kecil. Kebanyakan perusahaan yang inovasi berusaha menjaga keseluruhan perusahaan tetap datar serta tim proyek yang kecil.
  • Proses belajar interaktif, dimana di dalam suatu lingkungan yang inovasi, proses belajar dan penelitian ide-ide mengabaikan garis fungsi tradisional dalam suatu perusahaan.

Untuk tahap-tahap inovasi dapat dikelompokkan menjadi dua fase:

a. Penciptaan inovasi, yaitu kreasi gagasan dan pemecahan masalah bagi produk atau solusi produk.

b. Adopsi inovasi, yakni akuisisi atau implementasi inovasi yang menjadikan sumber peluang dari inovasi itu.

Jenis, bentuk dan motif apa pun  apakah inovasi itu sederhana atau radikal merupakan sebuah bentuk kesadaran.  Sebagian besar gagasan inovasi muncul lewat analisis peluang yang sistematis dan bertujuan. Dalam upaya mempertahankan identitas dan kelangsungan hidup  inovasi itu memerlukan pengetahuan, kemurnian, keteguhan, dan kerja keras. Tuomi (1999) berpendapat bahwa  proses utama inovasi terkait dengan pembaharuan dan pertumbuhan  inovasi sendiri, dan ini merupakan penyebab utama adanya pertumbuhan dan pembaharuan.

Inovasi dikenal secara luas di kalangan dunia bisnis dan tujuan utamanya adalah melaksanakan kegiatan ekonomi dan menjadi instrumen penting untuk mencapai serta melestarikan keunggulan daya saing di dalam bisnis.

Tujuan awal inovasi adalah menjadi pembuat norma dan menciptakan bisnis yang berada di depan. Akan tetapi, terutama di dalam dunia bisnis, sering kali inovasi yang efektif adalah inovasi yang sederhana dan fokusnya melakukan atau membuat satu hal. Inovasi adalah merupakan hasil kerja keras yang memerlukan pengetahuan dan kemurnian berwirausaha. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak seorang pun  dapat memastikan, apakah inovasi itu akan mengakhiri sebuah bisnis besar, mengubah aturan main, atau hanya sebuah prestasi biasa.

Inovasi dapat dianalisis pada level nasional organisasi, kelompok atau individu. Di sini seorang  harus mampu mengelola empat fase pembuatan inovasi proses yaitu sebagai berikut:

  • Pengamatan dan penyelidikan terhadap lingkungan, baik internal maupun eksternal.
  • Pilihan terhadap adanya pemicu terhadap inovasi.
  • Adanya opsi sumber daya dan penciptaan melalui riset. Pengembangan sumber daya yang diperoleh melalui pengalihan teknologi dan adanya sumber daya pengetahuan untuk dilaksanakan seorang Wirausaha.
  • Penerapan  inovasi lahir dari gagasan-gagasan, ide-ide, melalui berbagai tahap pengembangan untuk dilimpahkan sebagai produk atau pelayanan baru pada pasar eksternal, metode baru atau proses baru.

Untuk dimensi tipe-tipe  inovasi, tahapan-tahapan  inovasi, dan level analisisnya adalah sebagai berikut:

  • Inovasi produk, adalah hasil dari organisasi perusahaan.
  • Inovasi administrasi, adalah  inovasi yang terkait dengan manajemen, serta berorientasi  dengan proses struktur, manajemen sumber daya manusia (SDM), dan sistem akuntansi.
  • c. Inovasi kontinum, adalah sebagai inkremental ke radikal menurut tingkat perubahan yang diinginkan untuk melaksanakan inovasi.
  • Inovasi proses, adalah upaya untuk menghasilkan produk atau pelayanan yang baik.
  • Inovasi teknik, adalah  inovasi yang  terkait langsung dengan produksi produk.

Inovasi  merupakan   proses  yang  terus  menerus  dan tidak  pernah berakhir sebab selalu ada potensi pengembangan. Inovasi terhadap produk akan membawa perkembangan dan perubahan dalam ekonomi.

Kreativitas merupakan bahan bakunya.  Inovasi merupakan hasil komersial. Jadi, sesuatu yang baru belum tentu  inovasi jika yang dihasilkan itu tidak merupakan sesuatu yang lebih baik. Inovasi dalam bisnis yang menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas  adalah hasil dari tindakan yang bersedia memikul resiko. Insya Allah, setiap perjuangan dan kekalahan akan meningkatkan keahlian, kemampuan, dan dapat mempertebal keyakinan.

———- REFERENSI ———

  • Carol  Kinsey  Goman.   1999,   Kreativitas  Dalam  Bisnis, Binarupa Aksara, Jakarta.
  • Kao, John. 1989. Entrepreneurship, Creativity and Organization, Taxs, Cases and Readings,  Englewood cliffs, New Jesey,Prentice Hall.
  • Kuratko,  Donal F.  and  Richard  M,  Hodgets, 1995.  Entrepreneurship, A. Contemporary Approach, 3rd edition, the Dryden Press.