Alhamdulillah, subuh ini saya dapat bangun pukul 3 pagi ketika alarm pertama bunyi. Haus sekali rasanya setelah bangun tidur itu. Saya ingat jika semalam kekasihku membelikanku segelas minuman dengan aroma jahe yang sering disebut dengan sekoteng dan kutemukannya dalam lemari es jika minuman tersebut telah menjadi dingin. Puji syukur juga kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk dapat melaksanakan puasa Asyura siang harinya dan sehari sebelumnya saya telah mendahului puasa sunnah tersebut. Saya berbuka puasa di kampus sore itu dengan segelas jus sirsak dan indomie rebus buatan kantin belakang kampus Universitas Borobudur. Semoga hari ini Allah mengampuni dosa-dosaku setahun yang telah lalu, dan pagi ini mudah-mudahan Allah tetap memberiku inspirasi untuk tetap terus bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah Ia berikan kepadaku dan menjadikanku termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang shaleh. Amin.

Berdo’a kepada Tuhan itu hendaknya setiap saat, setiap waktu, yang boleh jadi itu artinya kita selalu ingat kepada siapa pencipta kita. Memohon kepada Allah juga tidak perlu sungkan karena Allah nanti yang akan memberi. Seperti kita memohon sesuatu kepada orang lain, ada yang dikabulkan, ada yang ditahan dan ada juga yang ditolak. Alasannya sudah pasti Allah Yang Maha Bijaksana. Jadi, jangan takut dan jangan bosan untuk terus memohon apa saja kepada Tuhan itu, dan adalah baik buat kita jika yang kita mohonkan itu adalah ampunan untuk kesalahan-kesalahan kecil kita, apalagi kesalahan-kesalahan besar kita. Jangan lupa mohonkan ampun juga untuk ibu-bapak kita baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggalkan kita lebih dulu. Sesungguhnya Tuhan kita itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Beraktifitas seharian, bekerja, belajar, dan berkumpul dengan teman-teman ataupun keluarga membuat kita menjadi lelah dan perlu istirahat agar keesokan harinya kita dapat melakukan hal yang lebih baik dari hari sebelumnya. Mencari karunia dan fadhilah Allah di bumi, ber-silaturrahmi dengan teman, pelanggan, rekanan, atau dengan saudara-saudara kita adalah merupakan satu rangkaian dalam menjemput rizki yang Allah sudah berikan kepada kita. Tidak ada orang atau satu makhluq-pun di dunia ini yang tidak mendapat rizki. Hanya perasaan malas saja yang mengahalangi seseorang itu dari mendapatkan rizki secara maksimal.

Malas bukan berarti bahwa orang itu sudah merasa cukup atau bersyukur atas apa yang sudah ada pada dirinya. Malas itu ya males, yang bisa diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa malas itu penyakit dan memberikan tips agar kita berdo’a kepada Allah supaya terhindar dari rasa atau penyakit malas tersebut dengan do’anya yang terkenal:

أللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجا

yang artinya:
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan hati dan kesedihan, Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, Dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut lagi bakhil, Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.

Menurut Dollard & Miller, psikolog asal AS, perilaku manusia terbentuk karena faktor ‘kebiasaan’. Jika seseorang terbiasa bersikap rajin dan bersemangat, maka ia akan selalu rajin dan bersemangat; begitu juga sebaliknya. Sehingga jika kita tergolong pemalas, jalan untuk merubahnya adalah dengan membiasakan diri untuk melawan sikap malas tersebut. Dollard & Miller menambahkan bahwa, ‘teori belajar’ juga cocok untuk merubah sikap malas tersebut. Belajar (disini) dijabarkan dalam rangka memberikan stimulus atau rangsangan agar terbentuk respons pada diri kita yang diharapkan nantinya akan menimbulkan drive atau dorongan untuk berperilaku tidak malas. Dan kalau berhasil, kita akan mendapatkan reward atau imbalan.

Yang diakui oleh kita sehari-hari adalah teori-teori seperti itu dan pertanyaanya, siapa yang dapat memberi reward atau imbalan tersebut kepada kita setiap waktu setiap saat? Bagaimana dengan wujud reward tersebut, apakah bisa dimanfaatkan? Ketika reward tersebut nyata maka belum tentu itu adalah nyata. Dalam agama Islam kehidupan dunia ini adalah semu, dan kehidupan dunia ini adalah jembatan bagi manusia untuk mendapatkan kehidupan enak yang kekal dan abadi. Dunia adalah tempat perjuangan, tempat kita memilih apakah kita termasuk orang yang mendapat petunjuk atau kita termasuk orang yang mengabaikan petunjuk tersebut. Apalagi petunjuk Tuhan. Allah menyediakan pahala dan syurga bagi orang-orang yang beriman (mengakui Allah, rasul utusan-Nya, malaikat-Nya, kitab suci yang diturunkan-Nya, taqdir-Nya, dan tentang adanya kehidupan yang kekal nanti di akhirat) serta orang-orang rajin, bukan pemalas! Malas sholat, malas beribadah, malas berdo’a, malas menuntut ilmu, malas belajar, malas bekerja, malas ketemu orang, dan malas yang negatif lainnya.