Kata motivasi berasal dari bahasa latin yaitu “movere” yang artinya bergerak. Saat ini istilah tersebut berarti mendorong seseorang untuk bertindak, karena motivasi adalah sebuah proses psikologi. Seseorang bergerak atau termotivasi ke arah sasaran jika ia merasa bahwa sasaran itu merupakan keinginan yang terbaik bagi dirinya. Crowl dkk (1977:231) mengungkapkan bahwa mativasi merupakan keteguhan dan pemusatan perilaku kepada sasaran yang dituju sampai sasaran tersebut dapat diraih. Karakter seseorang pada hal tersebut juga bergantung pada situasi tertentu atau bersifat temporal. Begitu juga dikemukakan oleh Law dan Glover (2000:56) keinginan, hasrat, dorongan, dan pergerakan individu adalah merupakan suatu motivasi yang mendorong seseorang menggerakkan dirinya mencapai sesuatu yang diinginkan.

Teori Isi (Motivasi Kebutuhan Tingkat Tinggi)

Teori isi yang berupaya untuk menentukan apa yang memotivasi orang untuk bekerja, secara khusus memperhatikan pengidentifikasian keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan seseorang yang dimiliki dan bagaimana kebutuhan/keinginan-keinginan tersebut diprioritaskan. Bentuk-bentuk insentif atau tujuan yang diinginkan adalah untuk dicapai bagi pemuasan diri. Insentif yang paling utama dalah uang, dan selanjutnya meliputi kondisi kerja, keamanan, dan gaya penyeliaan. Teori Motivasi isi tersebut dikenal juga sebagai teori Motivasi Kebutuhan Tingkat Tinggi atau High Level Needs Theory.

Teori Hirarki Kebutuhan

Teori ini adalah teori yang paling terkenal dalam studi motivasi. Teori ini diajukan oleh Abraham Maslow (1999:1) yang berpegang bahwa seseorang memiliki dorongan untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhannya sampai pada tingkat kebutuhan tertentu.

Jika kebutuhan pada suatu tingkat telah dipeuhi, maka hal itu tidak lagi menjadi sebuah motivator, dan orang tersebut akan bergerak pada tingat kebutuhan dalam hirarki selanjutnya. Pergerakan secara terus menerus ke atas sampai kebutuhan yang terendah muncul lagi. Pada titik ini seseorang akan jatuh kembali pada tingkat terendah dan berupaya untuk memenuhinya lagi. Maslow mengidentifikasi 5 tingkat dalam hirarki keputuhan yang dimulai dari tingkat kebutuhan terendah smpai dengan tertinggi adalah:

  1. Fisiologis
  2. Keamanan
  3. Cinta dan rasa saling memiliki
  4. Penghargaan
  5. Aktualisasi diri

Teori Dua Faktor

Teori ini disampaikan oleh Herzberg (2002:1) yang mengemukakan bahwa ada dua faktor yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang dalam berkerja, yaitu:

  1. Faktor intrinsik, seperti presatasi yang dicapai, pengakuan, dunia kerja, tanggungjawab dan kemajuan.
  2. Faktor ekstrinsik, seperti hubungan antar pribadi antara atasan dengan bawahan, teknik supervisi, kebijakan administrasif, kondisi kerja dan kehidupan pribadi.

Baik faktor intrinsik maupun ekstrinsik berpengaruh besar terhadap motivasi seseorang. Meskipun demikian, bukanlah sesuatu yang mutlak dapat dikuantifikasi, karena motivasi berhubungan dengan berbagai komponen yang sangat kompleks.