Membaca artikel tentang Nuklir dari arsip yang saya dapatkan dari websitenya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) ternyata secara geologi, seperempat daratan Indonesia diperkirakan mengandung deposit mineral radioaktif terutama uranium yang merupakan bahan bakar bagi energi nuklir.

Menurut laporannya yang dikeluarkan pada tahun 2006, disebutkan bahwa sejak tahun 1960 telah dilakukan prospeksi umum dan hingga saat ini telah mencakup lebih dari 78 % dari luas total 535.000 km2 yang terdapat di Indonesia. Beberapa kerjasama teknik pernah dilakukan dengan CEA Perancis (1969-1979), PNC Jepang (1977), BGR Jerman Barat (1977-1978).

Secara garis besar, bijih pembawa uranium dibagi dalam 2 kategori, yakni:

Bijih U bervalensi IV, yang terbentuk di lingkungan reduktif bawah muka bumi, kaya bahan organik. Bijih tersebut berwarna hitam atau coklat tua, seperti mineral-mineral: Pitchblende (campuran alami  UO2 & UO3), Coffinite (U silikat), Brennerite (U titinat), serta termasuk batubara yang mengandung U.

Bijih U bervalensi VI, terbentuk di lingkungan oksidatif di permukaan bumi, terjadi di masa recent, mengalami hidrasi, merupakan hasil pelapukan bijih U bervalensi IV. Berwarna kuning-jingga atau hijau jika berasosiasi dengan Cu. Mineral-mineral penting kategori ini adalah Autunit (U & Ca), Chalcolite atau Torbernite (U & Ca), Vanadate, dan Gummite.

Eksplorasi batuan yang mengandung uranium dilakukan dengan beberapa metoda, seperti metoda geofisika (radiometri, emanometri, gravitasi, magnetik, geolistrik) geokimia (contoh lumpur sungai, tanah, mineral berat, geolistrik), serta pengamatan geologi. Untuk daerah yang luas sekali dapat dilakukan survai ‘car-borne’ atau ‘air-borne’. Pelaksanaan eksplorasi dimulai dari peta geologi mineral, foto udara dan citra satelit, yang digunakan untuk menentukan daerah favorabe atau Daerah Prospek Uranium (DPU); selanjutnya dilakukan Peninjauan (reconnaissance) Prospek Pendahuluan (PPP), Prospek Umum (PU), Prospek Detail (PD) dan Prospektif Sistematik (PS).

Berdasarkan perhitungan, cebakan (in-place) di sekitar Kalan, Kalimantan Barat yang mengandung sekitar 6.707 ton RAR, 1.699 ton EAR-1 dan total spekulatif sebesar 4.090 ton uranium. Pada umumnya cadangan spekulatif yang diperhitungkan berada di daerah Kalan, yakni di sektor daerah Mentawai yang berlokasi di sekitar 50 km dari arah tenggara Kalan.

Jika eksplorasi ditingkatkan dalam skala industri, cebakan terbukti yang lebih besar akan dapat ditemukan di Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Dalam tahun 1993 – 1995, BATAN juga telah melaksanakan pemetaan di wilayah Irian Jaya seluas 3.000 km2.

Apabila teknologi energi nuklir sudah dapat dikembangkan ke penggunaan bahan baku nuklir yang lain, maka Indonesia termasuk siap karena mempunyai potensi yang cukup besar, begitu juga dengan cadangan Thorium yang saat ini masih dikategorikan sebagai limbah industri dari penambangan timah (Pb) di wilayah Sumatera. Selain itu bahan baku nuklir juga dapat dikembangkan ke arah penggunaan Plutonium, Lithium dan Hidrogen, sesuai dengan teknologi energi nuklir yang dikembangkan.

Akankah Indonesia akan memiliki PLTN dan senjata Nuklir?

———————