Jika ada pertanyaan kapan teknik industri lahir? Maka kita bisa melihat kebelakang tentang sejarah peradaban umat manusia itu sendiri, dimana teknik industri lahir sejak persoalan industri itu ada; yakni, sejak manusia mewujudkan sesuatu untuk memenuhi keperluan hidupnya.

Persoalan produksi muncul pada zaman saat manusia menggunakan batu atau kayu sebagai peralatanya. Pada masa itu manusia menggunakan alat yang paling sederhana untuk bekerja, pemotong atau pembelah. Kemudian alat tersebut mengalami perbaikan secara terus menerus yang ditujukan hanya untuk meningkatkan produktivitas pada persoalan industri tersebut.Contoh yang lebih komplek adalah dengan memperhatikan bagaimana sebuah Piramida di Mesir (yang dibangun tahun 2500an SM), Machu-Piccu di Peru (yang dibangun 1400an SM oleh suku Inca), tembok China (yang disatukan pada tahun 220-206 SM oleh Qin Shi Huang) atau sebuah candi Borobudur dibangun oleh  Samaratungga pada tahun 800an Masehi di tanah Jawa.

Dalam pembangunan situs-situs tersebut yang begitu kompleks sudah tentu dalam pembangunannya manfaatkan pendekatan teknik untuk peningkatan kualitas bahan yang dipesan, produktivitas, dan efisiensi sistem integral yang terdiri dari manusia, alat pendukung, material, energi, dan informasi melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya.

Tanpa energi yang kuat sudah tentu situs situs seperti itu tidak akan bisa dibangun, dan oleh karenanya energi pada saat itu diatur sedemikian rupa hingga needs and demands-nya terpenuhi. Disitu jelas ada ketahanan pangan yang kuat karena pangan adalah sumber energi, supply material yang cukup, tenaga kerja yang terbagi-bagi sesuai dengan keahliannya masing-masing dalam membangun sebuah wonder yang hingga saat ini masih bisa kita lihat.

Dari sini kita sudah melihat bahwa sebelum Adam Smith menerbitkan buku Wealth of Nations di tahun 1776 yang menekankan pentingnya “spesialisasi pekerjaan” jauh sebelum itu juga Nabi Muhammad SAW (570 – 673 M, yang pernah disebut oleh Michael H. Hart, 1978 dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah karena keistimewan beliau dalam merubah sejarah dunia yang dilahirkan disuatu tempat daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan), dan saat itu Muhammad SAW mengatakan “wa antum a’lamu biamri dunya-kum” yang artinya dia (Muhammad) tidaklah seorang yang spesialis dibidang cocok tanam buah kurma, melainkan harus ada “sambungan tali silaturrahmi” dengan spesialis-spesialis yang lain dalam membangun sebuah peradaban.

Artinya, tidak akan effektif jika pekerjaan itu dimonopoli sendiri dan dikerjakan sendiri. Pembagian pekerjaan yang diserahkan kepada ahlinya yang lain adalah salah satu dari bentuk silaturrahmi yang dapat memberikan lebih banyak keuntungan dan manfaat (rizki).

Situasi dan kondisi dunia terus berkembang hingga akhirnya disiplin teknik industri berakar kuat pada masa terjadinya revolusi industri di Eropa (1750-an) yang ditandai dengan beberapa penemuan teknologi baru pada masa itu, seperti penemuan mesin pintal oleh James Hargreaves (1765), pengembangan water frame oleh Richard Arkwright (1769), dan mesin uap oleh James Watt. Revolusi industri juga melahirkan penemu-penemu baru seperti, Samuel Morse yang mengembangkan pesawat telegram (1840), Thomas Alfa Edison(1880) yang menemukan bola lampu, dan masih banyak lagi.

Disisi lain berkembang pula pengembangan konsep-konsep untuk mencari proses kerja yang efektif dan efisien dari aspek manusia dan metode kerja. Beberapa dapat disebutkan antara lain;

  • Adam Smith (1723 – 1790) mengemukakan konsep perancangan proses produksi
  • Charles Babbage (1892 – 1871) mengemukakan perlunya pembagian kerja.
  • Henry Robinson Towne (1844 – 1924) mengemukakan pentingnya memperhatikan unsur probabilitas dari keputusan yang sudah diambil.
  • Frederick Winslow Taylor (1856 – 1915) yang dikenal sebagai bapak teknik industri, mengemukakan pemikiran tentang ‘Scientific Management’, dan dari sinilah bidang engineering ikut bertanggung jawab dalam perancangan, pengukuran, perencanaan, penjadualan maupun pengendalian kerja. Penelitian yang lain adalah pengaturan jam kerja yang optimum yang difokuskan pada perbaikan metode kerja, mengurangi waktu kerja dan mengembangan standar kerja.
  • Frank Bunker Gilbreth (1868 – 1924) menekankan tentang aspek metode kerja, dan
  • Henry Gantt (1861 – 1919) mengembangkan prosedur penjadualan rencana kerja dengan menggunakan peta balok atau peta Gantt.

Teknik industri adalah disiplin teknik (rekayasa) dan bukan science yang disebabkan karena teknik industri menangani pekerjaan perancangan (design), perbaikan (improvement), dan pengistalasian (instalation) dan juga menangani masalah manusianya. Bidang garapan teknik industri adalah sistem integral yang terdiri dari manusia, material/bahan, informasi, peralatan, dan energi.

Teknik Industri diajarkan pertama kali oleh Prof. Hugo Diemer di Departemen Teknik Mesin University of Kansas, Amerika Serikat pada tahun 1902. Sedangkan pendidikan Teknik Industri  di Indonesia diperkenalkan oleh Bapak Matthias Aoref pada tahun 1960 di ITB setelah menyelesaikan studinya di Cornell University. Teknik Industri berkembang dan terus berkembang di Indonesia hingga seperti saat ini.