Hari itu sudah siap-siap pergi ke Pelabuhan Tanjung Priok bersama rekan sekerja. Teman saya menyarankan agar saya lewat Tol untuk menghindari macet diseputaran Sunter – Kelapa Gading. Tapi saat itu saya benar-benar memilih untuk tidak menggunakan Jalan Tol sebab pikiran saya mengatakan bahwa macet adalah hal yang sudah biasa di Jakarta, dan akhirnya sampailah di Jalan Yos Sudarso Plumpang ke arah Tanjung Priok.

 

Kondisi Jalan Yos Sudarso

Jalan tidak bisa melaju cepat karena situasi sedang macet, belum lagi kita yang sedang naik mobil tidak boleh menyerobot masuk dalam jalur Busway. Dan yang namanya musibah, tiba tiba saja dari arah samping kanan sebuah sepeda motor Yamaha Mio membentur roda depan mobil saya. Secepat itu saya segera menghentikan mobil, dan Masya Allah, ternyata pengendara sepeda motor tersebut mengalami patah tulang dan pendarahan (karena tulangnya menembus otot tangan).

 

Teman saya segera menggantikan saya agar menepikan mobil sementra saya meminta orang-orang disekitar kejadian untuk membantu saya mengangkat pengendara motor tersebut masuk kedalam mobil guna segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Seorang polisi dari Patroli Jalan Raya datang, dan saat itu pula saya segera meminta bantuannya untuk mengamankan kendaraan korban, sementara saya memberikan nomer HP-saya untuk dihubungi selama saya bersama korban di Rumah Sakit.

 

Korban saat di Rumah Sakit

Sesampainya di rumah sakit sekitar Sungai Bambu, saya membawanya masuk ke ruang UGD dan meminta dokter atau siapa saja yang sedang jaga segera memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan papan kayu yang biasa digunakan jika ada korban patah tulang. Alhamdulillah, dalam musibah ini tidak ada hilang nyawa alias korban jiwa.

Sementara menunggu tindakan medis lebih lanjut, saya menanyakan kepada orang itu jika ada saudara yang dapat dihubungi, dan ternyata dia tidak mempunyai saudara yang dapat dihubungi di Jakarta. Saya menanyakan lagi apakah ada temannya atau siapa saja yang kenal dirinya untuk dapat dihubungi, sambil merintih dia menyebutkan satu nama dan segera saya meminta izin untuk mencari nama tersebut di HP-nya. Alhamdulillah temannya tersebut dapat dihubungi dan segera pergi ke Rumah Sakit.

Seorang Petugas Polisi datang ke Rumah Sakit dan menanyakan kejadiannya, namun saat itu saya tidak menjelaskan apa-apa kecuali saya jelaskan bahwa saya selesaikan dulu penanganan pertolongan pertamanya pada korban. Saya memberikan STNK mobil dan SIM A saya, dan saat itu petugas hanya menahan STNK  untuk sementara waktu di Rumah Sakit.

 

Saat Mobil Dibersihkan

Setelah mendapat konfirmasi bahwa tindakan medis akan segera dilakukan dengan melakukan operasi implant, maka saya menemui petugas Polisi tersebut untuk meminta penjelasan bagaimana seharusnya jika terjadi kecelakaan seperti ini. Petugas Polisi tersebut menanyakan apakah kejadian ini akan diproses sesuai hukum yang ada atau mau diselesaikan sendiri. Saat itu saya memilih untuk menyelesaikan secara kekeluargaan dengan korban kecelakaan tersebut.

 

Petugas Polisi tersebut memberikan masukkan jika saya memilih penyelesaian kekeluargaan, maka hendaknya ada surat pernyataan diantara kedua belah pihak bahwa hal ini diselesaikan akan secara damai, dimana suatu hari nanti tidak akan ada lagi saling tuntut dari kedua belah pihak. Surat tersebut juga harus diberikan kepada petugas yang berwenang terhadap wilayah dimana terjadi kecelakaan.

Malam hari setelah operasi implant selesai, surat tersebut saya buat dan alhamdulillah kedua belah pihak setuju dan sepakat untuk menandatanganinya, dengan catatan bahwa saya yang akan bertanggungjawab atas biaya selama korban di rumah sakit.

Bills yang banyak

Sungguh, dalam hati saya saat itu hanya niatan untuk menyelamatkan nyawa orang yang saya sendiri tidak kenal! Sayapun tidak punya uang saat itu kecuali 750rb yang dipinjamkan rekan saya yang tadi ingin berangkat bersama ke Tanjung Priok. Rizki itu memang dari Allah! diberikan oleh Allah dan bisa diambil lagi oleh Allah! termasuk musibah ini juga dari Allah.

Dalam hati saya, berguman “sejauh mana sih saya bisa kuat terhadap cobaan berat ini, yang biayanya sudah jelas akan lebih dari tanggungan yang bisa dibayarkan oleh pihak asuransi untuk tanggungan pihak ketiga!” apalagi perusahaan yang mau menanggung, itu kecil kemungkinan meskipun saya pergi saat itu adalah masih dalam waktu tugas perusahaan.

Niatan baik saya itulah yang menjadikan saya lebih tenang dan santai, bahkan Petugas Polisi sempat mengatakan, “kamu tidak salah, namun siapa yang tahu jika suatu hari nanti (na’udzubillahi min dzaalik ya…) ada kecelakaan yang menimpa atau anggota keluarga yang mengalami hal yang sama, pasti akan ada orang yang menolong!”. Saya sungguh bahagia mendengar ucapan tersebut dan sedikit menghibur kekecewaan saya karena musibah ini.

Renungan Pelajaran

Pelajaran yang saya ambil adalah, musibah itu adalah lemparan! yang kemudian kita menggunakannya untuk pengertian bahaya, celaka, atau bencana dan bala, yaitu apa saja yang menyakiti dan menimpa diri orang mu’min (karena saya Islm), atau sesuatu yang berbahaya dan menyusahkan manusia meskipun itu kecil. Islam telah mendidik saya dengan sering membaca Qur’an bahwa musibah (bencana/kecelakaan) yang terjadi di bumi atau menimpa diri seseorang itu telah dicatat Allah di dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum musibah itu terjadi (lihat Al Hadiid 22).

Jadi meskipun teman saya sudah menyarankan agar naik Tol, kalau memang musibah tersebut kita tidak tahu dan memang harus menimpa saya, maka sayapun memilih untuk melalui jalur dimana saya harus mengalami kecelakaan tersebut. Persoalannya, jangan sampai kita menjadi pihak yang bersalah dan melanggar peraturan lalu lintas, oleh karena itu sikap hati-hati dan mawas dalam berkendara diperlukan.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, dan aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya terhadap apa-apa yang telah diciptakan Allah.