Adalah Robert Skidelsky seorang anggota Mejelis Tinggi Inggris, Guru Besar Ekonomi Politik di Universitas Warwick dan penulis Biografi Ekonomi John Maynard Keynes. Pada tahun 1995 dia menulis sebuah buku yang berjudul “The World After Communism” atau Dunia Setelah Komunisme. Dalam bukunya itu dia bertanya akankah ada dunia setelah kapitalisme?

Kapitalisme selalu mengalami krisis, bahkan krisis saat ini adalah yang paling parah sejak 1930-an. Pertanyaan ini muncul karena peradaban Barat dirasakan semakin tidak memenuhi harapan, terbebani oleh sistem insentif guna menghimpun kekayaan, tetapi malah merusak kemampuan seseorang untuk menikmatinya.

Kapitalisme mungkin sudah mendekati ketidakmampuan menciptakan kehidupan yang “lebih baik” – setidaknya di negara-negara kaya dunia. Lebih baik maksudnya adalah lebih baik secara etis, bukan secara materi. Penumpukan kekayaan materi memang tidak bisa dihindari, meskipun bukti bukti menunjukkan bahwa penumpukan kekayaan materi ini tidak lagi membuat orang bahagia.

Ketidakpuasan bahkan tertuju pada kualitas dari suatu peradaban dimana produksi barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan sudah menjadi tujuan utama kebanyakan orang. Kapitalisme semula merupakan sistem yang dimaksudkan untuk mengatasi kelangkaan. Dengan menyelenggarakan produlsi secara efisien, dan mengarahkan kepada pencapaian kesejahteraan (bukan kepada kekuasaan), dan hasilnya memang ada bahwa kapitalisme telah mengangkat banyak negara di dunia keluar dari lembah kemiskinan.

Pertanyaanya adalah, apa jadinya dengan sistem semacam itu bila kelangkaan itu menjadi kelimpahan yang berlipat ganda? Akankah ia akan terus menghasilkan barang-barang yang sama, merangsang selera yang sudah jenuh dengan benda baru dan hanya memberikan kegembiraan sesaat? Seberapa lama lagi keadaan seperti ini dapat terus berlangsung? Akankah kita hidup di abad yang akan datang dengan bergelimang benda-benda yang tidak perlu?

Seabad yang lalu, alternatif kapitalisme itu adalah sosialisme. Tapi sosialisme dalam bentuk klasiknya mengalami kegagalan. Produksi yang dikelolah oleh negara lebih rendah mutunya jika dibandingkan dengan yang dikelolah oleh swasta karena berbagai alasan, selain merusak pilihan dan keragaman. Dan, sejak ambruknya komunisme, belum ada lagi yang alternatif yang pantas untuk menggantikan kapitalisme. Sungguh ironi jika konsep syariah yang ditawarkan Islam tidak dikenal oleh Robert Skidelsky.

Selalu ada pertanyaan moral mengenai kapitalisme, pertanyaan yang selalu diabaikan karena kapitalisme sudah begitu berhasil merangsang penumpukan kekayaan.

“Jika sekarang kita sudah memiliki kekayaan yang kita butuhkan, adakah salah jika mereka bertanya, apakah ongkos yang dibayar untuk sistem ini memang pantas untuk ditanggung?”

Adam Smith

Adam Smith misalnya, mengakui bahwa pembagian kerja (division of labor) akan membuat sebagian pekerja menjadi bodoh dengan tidak dimanfaatkannya keterampilan non-spesialisasi yang mereka miliki. Namun Adam Smith berfikir inilah harga – mungkin bakal ditebus melalui pendidikan – yang pantas dibayar karena meluasnya pasar akan meningkatkan pertumbuhan kekayaan.

Para penganjur perdagangan bebas saat ini memberi argumentasi yang sedikit banyak sama seperti Adam Smith. Mereka biasanya mengakui bahwa perdagangan bebas memang mengorbankan pekerjaan, tapi menambahkan bahwa program-program pelatihan ulang akan memberi mereka yang kehilangan pekerjaan berbagai pekerjaan baru “dengan nilai yang lebih tinggi”. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa, walaupun negara-negara (atau wilayah-wilayah) yang kaya tidak lagi perlu manfaat dari perdagangan bebas, mereka tetap terus menanggung ongkosnya.

Para pembela sistem kapitalisme biasanya menjawab; terserah kepada individu-individu untuk membuat pilihan mereka sendiri. Jika orang mau keluar dari sistem kapitalisme, silahkan saja. Dan, sebenarnya, banyak diantara mereka yang drop out dengan berbuat demikian. Demokrasi, juga berarti kebebasan meninggalkan kapitalisme.

Jawaban seperti itu memang kuat, tapi naif. Masyarakat tidak menentukan pilihannya secara tersendiri. Pilihan yang mereka lakukan ada dalam kerangka yang dibentuk oleh budaya yang dominan dalam masyarakat tersebut. Apakah memang benar tekanan terus-menerus untuk mengkonsumsi itu tidak berpengaruh terhadap pilihan-pilihan yang ada?

Kita bisa melarang pornografi dan kekerasan di layar TV, karena kita yakin bahwa pornografi dan kekerasan membawa pengaruh negatif, namun kita juga harus meyakini bahwa iklan-iklan tanpa batas yang mempromosikan barang-barang konsumsi itu berpengaruh cuma terhadap distribusi permintaan, bukan total permintaan.

Para pembela kapitalisme kadang-kadang berargumen bahwa semangat memiliki itu begitu kuat dalam diri manusia sehingga tidak ada yang dapat menghilangkan nafsu ini. Sifat manusia ini merupakan gabungan nafsu dan peluang yang saling bertabrakan. Sudah menjadi fungsi budaya (termasuk agama), mendorong sebagian orang mengekspresikan dirinya dan membatasi yang lain.

Sebenarnya, “semangat kapitalisme” merasuk dalam kehidupan manusia ini belum lama dalam sejarah. Sebelum itu, pasar jual-beli barang dipagari restriksi hukum dan moral. Seseorang yang mencurahkan kehidupannya semata-mata untuk menghimpun harta tidak dianggap sebagai panutan yang baik. Keserakahan, nafsu menghimpun kekayaan, dan iri hati termasuk kelemahan-kelemahan fatal manusia. Riba (melipatgandakan uang dengan uang) dianggap melanggar hukum agama.

 

George Soros

Presiden George Bush pada Maret 2008 pernah mengakui kelemahan sistem kapitalis dan setuju mengatur kembali semua lembaga keuangan. Pada pertemuan G-8 tahun 2008, di Davos-Swiss, George Soros juga pernah menegaskan bahwa gejolak pasar keuangan global tidak bisa diatasi dengan penurunan suku bunga atau penyuntikan dana. Banyak sekali kepalsuan dalam laporan keuangan, dan maraknya praktek-praktek penipuan menyebabkan lembaga keuangan global terjerambab dalam kebangkrutan massal.

Sebagai perbandingan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau telah mengajarkan pelaksanaan ekonomi syariah. Pengembangan ekonomi syariah terjadi dengan seluruh contoh derivatifnya, termasuk keuangannya berkembang sangat pesat dan meluas ke pelosok dunia, termasuk ke Eropa, Afrika, bahkan sampai ke India dan Indonesia. Namun, sejak abad ke 16, peranan Islam mulai menurun. Saat itu mulai muncul ekonomi berdasarkan kekuatan modal dan kekuasaaan, yang lebih dikenal sebagai sistem kapitalisme atas saran Guru Besar Kapitalisme Adam Smith.

Ironisnya pada abad ke-18 keserakahan menjadi perbuatan yang terhormat secara moral. Sekarang orang menganggap tidak ada dosanya mengubah kekayaan ke dalam bentuk uang dan menggunakannya untuk melipatgandakan jumlah uang tersebut, karena berbuat demikian dianggap membawa manfaat bagi umat manusia.

Inilah yang mengilhami gaya hidup Amerika, di mana uanglah yang menentukan segalanya. Diakhirinya kapitalisme berarti berakhirnya dorongan untuk mendengarkan rayuannya. Orang akan mulai menikmati apa yang mereka miliki, bukan selalu menginginkan lebih banyak. Kita bisa membayangkan suatu masyarakat pemilik kekayaan pribadi yang tujuan utamanya adalah menikmati hidup yang baik, bukan mengubah kekayaan mereka menjadi “modal”.

Usaha penyediaan jasa-jasa keuangan akan berkurang, karena mereka yang kaya tidak lagi selalu ingin menjadi lebih kaya. Sementara semakin banyak orang merasa berkecukupan dengan apa yang sudah mereka miliki, kita bisa berharap semangat menghimpun kekayaan itu tidak lagi dihargai masyarakat. Kapitalisme dianggap sudah menyelesaikan tugasnya, dan motif mengejar kekayaan ini akan menjadi bagian dari masa lalu.

Menelanjangi keburukan keserakahan ini mungkin bisa terjadi hanya di negara-negara dimana warganya sudah memiliki lebih daripada yang mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara ini pun masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ekonomi akan lebih stabil dan warga akan lebih bahagia jika kekayaan dan pendapatan terbagi lebih merata.

Pandangan yang secara ekonomi membenarkan ketidaksetaraan pendapatan yang lebar ini–yang dianggap perlu untuk merangsang orang agar lebih produktif–ambruk ketika pertumbuhan tidak lagi dianggap segalanya.

Dalam judul yang sama dari Project Syndicate, 2011 menyampaikan bahwa sosialisme mungkin bukan alternatif kapitalisme, tapi apakah mungkin ia ahli warisnya? Yaitu yang akan mewarisi bumi bukan dengan merampas hak milik orang-orang kaya, melainkan dengan memberikan motif dan insentif perilaku yang tidak ada kaitannya dengan akumulasi kekayaan. Akankah?

Bagaimana dengan Islam?

Islam memiliki syariah yang menuntun prilaku berekonomi agar memperoleh falah. Perilaku ini terkait dengan landasan syariat sebagai rujukan moral dalam fitrahnya, yang terbentuk dengan dasar nilai Ilahiyah.


Perbedaan mendasar ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional (kapitalis dan sosialis) terletak pada sumber utama prilaku dan infrastruktur ekonomi syariah yaitu al Qur’an dan as Sunnah, yang bukan merupakan karya pakar ekonomi Islam, namun pengetahuan langsung dari sang Maha Pencipta, Allah SWT. Di sisi lain, sumber pengetahuan ekonomi konvensional adalah intelegensi dan institusi akal manusia melalui studi empiris. Perbedaan kedua, terletak pada motif prilaku itu sendiri. Ekonomi syariah dibangun dan dikembangkan di atas nilai altruism, sedangkan ekonomi konvensional berdasarkan nilai egoisme.

Ekonomi sebagai suatu ilmu, bersifat universal, tidak terkait dengan ideologi tertentu, dapat dikembangkan dan diadopsi dari manapun selama tidak kontra produktif dengan syariah Islam. Hal ini sejalan dengan hadist Nabi SAW ”kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” yang berarti boleh mengembangkan kemampuan produksi secara kualitas maupun kuantitas, sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah.

Sebagai pengetahuan saja, berikut adalah prinsip utama ekonomi syariah adalah:

  1. Hidup hemat dan tidak bermewah-mewahan;
  2. Implementasi zakat;
  3. Penghapusan/pelarangan riba, gharar dan maisir, menjadi sistem bagi hasil (profit-loss sharing) dengan instrumen mudharabah dan musharakah sebagai pengganti sistem kredit dan bunganya yang membersihkan ekonomi dari segala prilaku buruk yang merusak sistem, seperti menipu dan judi;
  4. Usaha-usaha yang halal.

Keempat prinsip utama ini, bukan hanya memberi batasan-batasan moral saja, namun mengandung konsekuensi bangunan ekonomi yang signifikan berbeda dengan sistem ekonomi konvensional, antara lain eksistensi lembaga baitul mall sebagai respon implementasi sistem zakat dalam kebijakan fiskal negara, dominansi bagi hasil dalam dunia usaha dan investasi sebagai konsekuensi pelarangan bunga (riba).

Tantangan Penerapan Ekonomi Syariah Dewasa Ini

Ekonomi syariah berpotensi menggantikan posisi ekonomi konvensional, namun dalam penerapannya banyak kendala dan tantangan yang dihadapi antara lain:

  1. Masih diberlakukannya pajak ganda di perbankan syariah;
  2. Belum siapnya dukungan SDM ekonomi syariah;
  3. Tidak ada kurikulum ekonomi syariah di sekolah umum, sehingga pemahaman, kesadaran serta kepedulian masyarakat rendah;
  4. Persepsi negatif sekelompok muslim dan non-muslim yang takut mengaplikasikan hukum syariah secara kafah;
  5. Belum kuatnya dukungan parpol Islam untuk menerapkan ekonomi syariah;
  6. Meningkatnya apresiasi masyarakat dan kegairahan memperluas pasar ekonomi syariah belum diikuti dengan edukasi yang memadai;
  7. Mampukah perbankan syariah memerankan fungsi intermediasi pemulihan ekonomi saat ini? sehingga mampu menggerakan sektor riil.

Oleh karena kapitalisme telah gagal mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi keniscayaan bagi umat manusia zaman sekarang untuk mendekonstruksi ekonomi kapitalisme dan merekonstruksi ekonomi berkeadilan dan berketuhanan yang disebut dengan ekonomi syariah. Dekonstruksi artinya meruntuhkan paradigma, sistem dan konstruksi materialisme kapitalisme, lalu menggantinya dengan sistem dan paradigma syari’ah. Capaian-capaian positif di bidang sains dan teknologi tetap ada yang bisa kita manfaatkan, Artinya puing-puing keruntuhan tersebut ada yang bisa digunakan, seperti alat-alat analisis matamatis dan ekonometrik, .dsb. Sedangkan nilai-nilai negatif, paradigma konsep dan teori yang destrutktif, filosofi materalisme, pengabaian moral dan banyak lagi konsep kapitalisme di bidang moneter dan ekonomi pembangunan yang harus didekonstruksi. Karena tanpa upaya dekonstruksi, krisis demi krisis pasti terus terjadi, ketidakadilan ekonomi di dunia akan semakin merajalela, kesenjangan ekonomi makin menganga, kezaliman melalui sistem riba dan mata uang kertas semakin hegemonis.

Sekarang tergantung kepada para akademisi dan praktisi ekonomi untuk menyuguhkan konstruksi ekonomi yang seperti ekonomi syariah degan konsep keadilan, maslahah, dan dapat mewujudkan kesejahteraan umat manusia, tanpa krisis finansial, (stabilitas ekonomi), tapa penindasan, kezaliman dan penghisapan, baik antar individu dan perusahaan, negara terhadap perusahaan, maupun negara kaya terhadap negara miskin. Apakah ini bertentangan dengan agama atau kepercayaaan lain selain Islam?

Posted with WordPress for BlackBerry.