CRUD menggunakan Ajax Bootstrap CodeIgniter


Untuk membuat CRUD menggunakan Ajax, Bootstraps Modal dan Data Tables dengan serverside guna menambah, edit, update, dan delete data seperti tampilan dibawah ini, maka diperlukan beberapa resources seperti: PHP + MySQL, Codeigniter 3.0.2, jQuery 2.1.4, Twitter Bootstrap 3.3.5, Bootstrap-datepicker 1.4.0, dan DataTables 1.10.7.

TambahData

Database & Query:

create database crud;
use crud;
CREATE TABLE `persons` (
`id` int(11) unsigned NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`firstName` varchar(100) DEFAULT NULL,
`lastName` varchar(100) DEFAULT NULL,
`gender` enum('male','female') DEFAULT NULL,
`address` varchar(200) DEFAULT NULL,
`dob` date DEFAULT NULL,
PRIMARY KEY (`id`)
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=utf8;


-- example data persons
INSERT INTO `persons` (`id`, `firstName`, `lastName`, `gender`, `address`, `dob`)
VALUES
(1, 'Airi', 'Satou', 'female', 'Tokyo', '1964-03-04'),
(2, 'Garrett', 'Winters', 'male', 'Tokyo', '1988-09-02'),
(3, 'John', 'Doe', 'male', 'Kansas', '1972-11-02'),
(4, 'Tatyana', 'Fitzpatrick', 'male', 'London', '1989-01-01'),
(5, 'Quinn', 'Flynn', 'male', 'Edinburgh', '1977-03-24');

Configuring CodeIgniter

Routing
path: config/route.php

$route['default_controller'] = 'person';
$route['404_override'] = '';
$route['translate_uri_dashes'] = FALSE;

Base URL Config (required if using CodeIgniter 3.0.3 or later)
path: config/config.php

Lihat pada dynamic base_url: Dynamic base_url() and site_url() Codeigniter 3.0.3 +
Disini biarkan kosong karena sudah menggunakan codeigniter versi 3.0

model: Person_model.php
path: application/models/Person_model.php

Controller Person.php
path: applications/controllers/Person.php

view: person_view.php
path: application/views/person_view.php

Untuk lembar atau halaman selanjutnya jika view lebih dari yang ditentukan akan tampak seperti view dibawah ini.

lembarlanjutan

Untuk DEMO silahkan klik disini dan untuk download source code silahkan download disini.

HTTP Error on WordPress


Make GD Library Your Default Image Editor

Speaking of magic, did you know WordPress ships with two image editors? That’s right, WordPress uses either Imagick or the GD Library to process images. While they are both great, Imagick is notorious for exhausting the available memory and causing the HTTP error.

To circumvent this problem, you need to make GD Library your default editor. How? Just drop this code to your theme’s functions.php file:

function hs_image_editor_default_to_gd( $editors ) 
{
$gd_editor = 'WP_Image_Editor_GD';
$editors = array_diff( $editors, array( $gd_editor ) );
array_unshift( $editors, $gd_editor );
return $editors;
}
add_filter( 'wp_image_editors', 'hs_image_editor_default_to_gd' );

Save your changes and try to upload the image again. If the HTTP error persists, revert the code change and try the other solution. Good Luck!

Structural Equation Modeling (SEM)


SEM atau Model Persamaan Struktural adalah generasi kedua teknik analisis multivariate yang memungkinkan peniliti dapat menguji hubungan antara variabel yang kompleks baik recursive maupun yang non-recursive guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model.

Tidak seperti analisis multivarite biasa seperti regresi berganda atau analisis faktor, Structural Equation Modeling  dapat menguji bersama apa yang disebut dengan model struktural (hubungan antara konstuk independen dan dependen), dan apa yang disebut dengan model measurement (hubungan nilai loading antara indikator dengan konstruk atau variabel laten).

Digabungkannya pengujian model struktural dan pengukuran tersebut memungkinkan peneliti untuk:

  1. Menguji kesalahan pengukuran (measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari SEM.
  2. Melakukan analisis faktor bersamaan dengan pengujian hipotesis.

Adapun software yang menawarkan analisa SEM di pasaran adalah LISREL, AMOS, SmartPLS, dan EQS. Dalam Jurnal Information System Research mendata bahwa penggunaan SEM dengan LISREL adalah sekitar 15% dari total seluruh riset berbasis struktural dibandingkan dengan total penggunaan EQS dan AMOS yang hanya sekitar 3%.

Untuk tahapan-tahapan dalam analisis SEM biasanya dimulai dari konseptualisasi model, penyususnan diagram alur (path diagram), spesifikasi model, identifikasi model, estimasi parameter, penilain model fit, dan modifikasi model serta validasi silang model.

Structural Equation Modeling memiliki dua tujuan utama dalam analisisnya. Tujuan pertama adalah untuk menentukan apakah model itu plausible (masuk akal) atau fit; atau dengan bahasa lebih muda, apakah model “benar” berdasarkan suatu data yang dimiliki. Sedangkan tujuan yang kedua adalah untuk menguji berbagai hipotesis yang telah dibangun sebelumnya.

PENANGANAN MUATAN KAPAL


1..A. Tuliskan dan jelaskan prinsip2 penanganan muatan ;

  1. Apakah maksud dari melindungi kapal ?

Jawab :

  1. Prinsip Penanganan Muatan adalah sbb
  2. Melindungi kapal
  3. Melindungi Muatan
  4. Memaksimalkan ruang muat dengan muatan
  5. Usahakan bongkar muat,cepat, teratur,aman.
  6. Melindungi ABK dan Buruh.
  1. Melindungi kapal adalah menciptakan suatu keadaan dimana dalam melaksanakan kegiatan penanganan dan penagturan muatan kapal senantiasa tetap dalam kondisi yang baik,aman serta laik laut.

2.A.Apa yang dimaksud dengan ;

  • Long hatch ialah penumpukan suatu jenis muatan dgn jumlah banyak pada satu palka untuk satu pelabuhan tertentu atau pembagian muatan yg tidak merata untuk masing-masing palka bagi suatu pelabuhan tujuan tertentu.
  • Over Stowage ialah muatan yg seharusnya dibongkar disuatu pelabuhan tujuan terhalang oleh muatan lain yg berada diatasnya
  • Over carriage ialah muatan yg seharusnya dibongkar disuatu pelabuhan tujuan,terbawa kepelabuhan berikutnya.

B.Fungsi Dunnage ialah

  • Untuk mengelompokkan suatu jenis muatan dgn lainnya
  • Untuk memisahkan muatan satu dengan lainnya agar tidak tercampur
  • Untuk meninggihkan muatan (segregation)
  • Dapat membongkar muatan secara cepat dansistimatis
  • Berfungsi sebagai peranginan.
  • Mencegah kerusakan muatan akibat dari
  1. Pengembunan(condensation)
  2. Cairan bebas(free moisture)
  3. Pergeseran (Chafage)
  4. Himpitan (Crushing)
  5. Panas mendadak(Spontaneous heating)
  6. Pencurian ( Pilferage)

 

3.A.Jenis2 muatan digolongkan dalam 3 kelompok tuliskan dan jelaskan

Jawab :

Jenis muatan ada 3 kelompok yaitu ;

  1. Ditinjau dari cara pemuatan yakni;
  • Muatan curah
  • Muatan dingin
  • Muatan Cair
  • Muatan Gas
  • Muatan Campuran
  • Muata peti kemas
  1. Ditinjau dari sifat atau mutu yaitu
  • Muatan basah
  • Muatan Kering
  • Muatan bersih
  • Muatan kotor
  • Muatan berbau
  • Muatan pekah
  • Muatan berbahaya
  • Muatan berharga
  • Muatan hewan
  1. Ditinjau dari perhitungan biaya angkut
  • Muatan Berat
  • Muatan Ringan
  • Muatan standard
  1. Tuliskan jenis muatan ditinjau dari perhitungan biaya angkut.

Jawab :

*      Jenis muatan ditinjau dari perhitungan biaya yaitu ;

  1. Muatan Berat Yaitu muatan yg mempunyai SF(Stowage factor) < 1,114 m3/tonne. Contoh Semen,besi, timah, plat baja, Marmer.
  2. Muatan ringan yaitu Muatan yang mempunyai SF(Stowage Factor) > 1,114m3/tonne. Contohnya,Beras,Plywood,the,tepung,tapioca,tekstil dll.
  3. Muatan Standard yaitu Muatan yang mempunyai SF(stowage factor) = 1,114m3/tonne. Contoh Papan,Bahan-bahan kosmetik dll
  1. Jelaskan yang dimaksud dgn
  • Muatan Berat adalah muatan yg mempunyai SF < 1,114m3/tonne.  Contoh. Semen,Besi,Timah,Plat baja
  • Muatan Ringan adalah muatan yg mempunyai SF >1,114m3/tonne. Contoh Beras,plywood,the,tepung,tapioca,textile dll.
  • Muatan measurement adalah muatan yg mempunyai SF = 1,114m3/tonne. Contoh Papan,bahan kosmetik dll.
  • Muatan OPTIE ialah muatan yg belum jelas pelanuhan tujuannya.

5.A. Jelaskan apa yg dimaksud dgn DECK LOAD CAPACITY.

  1. Dimana anda dapatkan data deck capacity (C) dikapal.
  2. Jika data Deck capacity (C) dikapal telah hilang,bagaimana cara menghitungnya ?
  3. Jelaskan Bagaimana cara menghitung tinggi maksimal muatan disuatu palka sehubungan dgn Deck Load Capacitynya.

Jawab :

  1. Deck Load Capacity adalah Kemampuan sebuah geladak untuk menampung sejumlah muatan Berat dinyatakan dalam tonne/m3 dgn lambing “C”  C = Ton/M3
  1. Nilai C dapat ditemukan pada capacity plan atau dalam Blue Print kapal dimana dapat mengetahui beberapa besar kemampuan masing-masing geladak, sehingga dapat dihitung berapa tinggi susunan maximum dari muatan agar tdk melampaui kekuatan geladak tsb.
  1. Jika data Deck Load Capacity (c) telah hilang maka untuk menghitung nilai c dpt menggunakan rumus pendekatan.

C =    Tonne/m2

1,4

dimana ;

H = Tinggi tween Deck (m)

C = Deck Load Capacity (t/m2).

SF = Stowage Factor (m3/Tonne).

  1. Cara menghitung tinggi maksimal muatan disuatu palka sehubungan dgn Deck Load Capacity adalah dengan menggunakan rumus ;

H = C x SF

Dimana ;

H = Tinggi susunan muatan (m)

C = Deck load Capacity (ton/m2)

SF= Stowage Factor (m3/Ton)

6.A. Apa yang dimaksud dgn DUNNAGE

  1. Dunnage harus dapat memenuhi fungsinya,untuk itu dunnage yg baik harus memenuhi syarat.Tuliskan minimal 4 persyaratan dunnage yg baik,

Jawab :

  1. DUNNAGE adalah bahan-bahan yg digunakan dalam kegiatan pengaturan muatan (stowage)
  1. Persyaratan Dunnage yg baik adalah
  • Bahan harus kuat & kering
  • Bukan dari bahan HYGROCOPIS atau karma sifatnya dpt merusak muatan
  • Dapat memenuhi fungsinya
  • Mudah diperoleh
  • Harga & Biaya murah

7.A. Jelaskan apakah yang dimaksud dgn istilah FULL & DOWN.

  1. Bagaimanakah persyaratan agar sebuah kapal dapat dimuati hingga mencapai keadaan FULL & DOWN

Jawab :

  1. FULL & DOWN adalah suatu pemuatan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga ruang muatan yang tersedia terisi penuh dan kapal terbenam pada sarat maximal yang diijinkan.
  1. Persyaratan untuk FULL & DOWN adalah sebagai berikut ;
  • Volume muatan = Volume ruang muat
  • Berat Muatan =Daya angkut (Cargo DWT)
  • Sarat kapal = Sarat maximal yg diijinkan
  1. Jelaskan yang dimaksud.
  2. FCL ( Full Container Load) ialah sebuah container yang mana muatan didalamnya dimilik oleh satu shipper saja.
  1. LCL (Less than Container Load) ialah dimana muatan didalamnya terdiri dari beberapa shipper.
  1. CFS (Container Freight Station) ialah kawasan yg digunakan untuk menimbun peti kemas LCL,melaksanakan stuffing/unstuffing dan untuk menimbun brek-bulk cargo yang akan di stuffing ke peti kemas atau di unstuffing dari peti kemas.
  1. BAY PLAN ialah dimana pemuatannya dimuat dari depan kebelakang dan pada container yg bernomor ganjil untuk container yg berukuran 20”,sedangkan container yang bernomor genap untuk container yang berukuran 40’
  2. Muatan berupa peti-peti sebanyak 25 peti,tersedia digudang laut untuk dimuat pada sebuah kapal.Muatan tersebut berukuran panjang = 120 cm, Lebar = 60 cm dan tinggi =40 cm,serta berat tiap peti = 1250 KG,Jika muatan ini dimuat maka diperhitungkan terjadi broken stowage sebesar 2%.Hitunglah berapa Volume ruang yang harus disiapkan untuk 25 peti tsb :

Jawab.

Dik ;

G     = 1250 KG

BS   = 2%

P      =25

V      = 120 x 60 x 40 cm

= 288,000cm3

= 0,288 m3

Ditanyakan     = V (Volume yg disiapkan)

Jawab ;

P      = V (1-BS)

v

V      = P x v  .

1 – BS

25 x 0,288

1 – 2%

=  7,2  .

0,98

V      = 7,346 m3.

Jadi Volume yg disiapkan sebesar 7,346 m3

  1. Sebuah kapal Gale Capacity 7250 m3 dan DWT 5525 Tonne,akan dimuati hingga mencapai kondisi full dan down,sebelum dimuat dikapal telah ada operating Load beberapa FO,FWD dan Store sebanyak 300 ton  Muatan yang akan dimuat adalah muatan A dengan SF = 5,75 m3/Ton B dengan SF = 0,42 m3/ton. Jika dalam pemuatan diperhitungkan BS rata-rata 5 %

Hitunglah beberapa ton masing-masing muatan yg dapat dimuat ?

Jawab ;

Dik  = Kapal akan dimuat FULL and DOWN.

Bale capacity     =   7250

BS 5% x 7250   =      362,5-

Vol efectif         = 6887,5 m3

DWT                   =  5525 tone

Opp                     =    300 tone

C.DWT                =  5225 tone

A + B                   =  5225 tone

5,75 A+ 0,41 B   =  6887,5 m3

5,75 A + 0,41 B  = 6887,5

0,41 A x 0,41 B  = 2142,25 –

5,34 A                = 4745,25

A  = 4745,25

5,34

A  =888,624 tone

B   =5225-888,624

=4336,4 ton

Jadi muatan A   = 888,624 tone

Dan muatan B    = 4336,4 ton

  1. Ruang muat sebuah palka 1000m3,akan dimuati dgn textile dalam peti dengan ukuran tiap peti = 1 x 0,75 x 0,25 (m) berat tiap peti 30 kg, bila dlm pemuatan BS = 5 %
  2. Berapa tonne tekstil dapat dimuat?
  3. Berapa jumlah peti yang dimuaat ?

Jawab.

Dik.

Ruang muat        = 1000m3 (v)

V      = 1 x o,75 x 0,25 = 0,1875 m3

G     = 30 kg

BS   = 5 %

Dit;

  1. Berapa ton tekstil dpt dimuat
  2. Berapa jumlah pety dpat diangkut

SF = 1000 x v

G

=1000 x 0,1875 m3

30

= 6,25

a,     T = V(1-BS)  = 1000(1-5%)

SF             6,25

= 152 Tonne.

b,     P = V(1-BS)     = 1000(1-5%)

V              0,1875

= 1000 x 95 %

0,1875

= 5066,66

= 5066 Peti.

  1. Sebuah tangki ukuran P X L X T = 20 x 10 x 8 m,diisi solar dgn BJ = 0,845 hingga mencapai ullage = 0,75 m,bila suhu saat itu = 12° C koreksi BJ = 0,00075 °/C berapa tonne solar yang dapat dimuat ?

Jawab.

V tangki     = 20 x 10 x 8      = 1600 m3

V Ullage     = 20 x 10 x 7,25 = 150 m3

Volumen Muatan                   = 1450 m3

S2   = S1 – C (t2-t1)

= 0,845 – 0,00075 (12º-15,6º)

= 0,845 – (- 0,0027)

= 0,8477

W    = V X Bj

= 1450 x 0,8477

= 1299,165 ton

DECK LOAD CAPACITY CALCULATION


Deck  Load Capacity  adalah Kemampuan sebuah geladak  untuk  menampung  sejumlah  muatan  berat, dinyatakan dalam ton/m² dengan lambang ”C”.

C  =  ton/m².

Nilai C dapat ditemukan pada Capacity plan atau dalam  Blue  print  kapal  dimana  dapat mengetahui berapa besar  kemampuan  masing – masing geladak,  sehingga  dapat  dihitung berapa tinggi susunan maksimun dari muatan agar tidak melampaui kekuatan geladak tersebut.

Pembebanan geladak akibat adanya muatan geladak menurut Lloyds Rule adalah sbb :

  1. Pada bagian atas geladak tak terputus 0,87 ton/m²
  2. Ambang Palka di geladak 1,08 ton/m²
  3. Untuk muatan geladak antara 0,72 h/ton (h = angka ketinggiangeladak antara dalam meter)

Contoh  :

PERMISSIBLE  LOADS

  1. Deck (Main Deck) (Incl. Hatch Covers) =1,75 t/m²
  2. Deck (Tween Deck) (Excl Hatch Covers) = 2,45 t/m²
  3. Hatch Covers Tween Deck = 3,30 t/m²
  4. Tank Top = 8,00 t/m²

Untuk menghitung tinggi susunan suatu muatan berat  pada suatu geladak antara agar tidak melampaui batas kemampuan geladak antara tersebut dengan  menggunakan rumus  :

h = C x SF

h    = Tinggi susunan muatan (m)

C   = Deck Load Capacity (ton/m²)

SF =  Stowage Factor (m³/ton)

Bilamana Nilai Deck Load Capacity atau Permissible loads sudah tidak dapat ditemukan akibat referensi hilang, maka untuk menghitung Nilai C dapat menggunakan rumus pendekatan  :

C    =  H / 1.4  ton/m²

C    =  Deck Load Capacity (t/m²)

H    =  Tinggi Tween Deck (m)

1,4  =  Stowage Factor TD (m³/ton)

Soal Latihan. 1

Sebuah Geladak antara memiliki DLC = 2,6 ton/m². Akan dimuati dengan Besi yang memiliki SF = 0,42 m³/ton. Hitunglah tinggi susunan muatan Besi tersebut agar tidak melampaui kekuatan geladak antara itu.

Soal Latihan. 2

Sebuah Upper deck dengan tinggi = 6,20 meter. Akan dimuati muatan yang memiliki BJ = 2,1 ton/m³.   Hitunglah berapa tinggi susunan muatan tersebut agar tidak merusak konstruksi geladak.

Soal Latihan. 3

Sebuah kapal memiliki geladak antara berukuran panjang = 11,40 meter, lebar = 3,50 meter dan tinggi = 3,20 meter. Daya tampung geladak tersebut (DLC) = 2,15 ton/m². Akan dimuati Timah batangan dengan BJ = 2,4 ton/m³. Bila dalam pemuatannya broken stowage diperhitungkan terjadi sebesar 2 %, Hitunglah berapa ton berat Timah yang dapat dimuat agar tidak merusak konstruksi geladak.

Soal Latihan. 4

Sebuah geladak antara diketahui memiliki tinggi = 3,40 meter, dengan panjang = 15,80 meter dan lebar = 3,60 meter. Akan dimuati hingga penuh dengan 2 (dua) jenis muatan yakni Besi batangan yang memiliki SF= 0,56 m³/ton dan Peti-peti berukuran sama dengan SF= 2,18 m³/ton. Bila dalam pemuatan broken stowage diperhitungkan akan terjadi rata-rata sebesar 5 %, Hitunglah berapa ton berat masing-masing muatan tersebut yang dapat dimuat agar tidak merusak konstruksi geladak.

Simulasi menggunakan VenSim


Buatlah suatu skenario pertumbuhan kenaraan di DKI Jakarta pada tahun 2017. Data yanga da menunjukkan jumlah kendaraan 15.000.000 mobil dan 25.000.000 motor. Tingkat pertumbuhan motor dengan mudahnya kredit dapat mencapai 4.6% per tahun, sementara pertumbuhan mobil mencapai 2.5% per tahun. Sementara itu tingkat kehilangan yang menyebabkan tidak beredarnya motor di wilayah DKI hanya 2% per tahun dan mobil 0.5% per tahun.

Diminta:

  • Gambar diagram simpal kausal model pertumbuhan kendaraan bermotor tersebut
  • Gambar diagram stok dan flow pertumbuhan kendaraan bermotor di DKI Jakarta tersebut
  • Berapa jumlah populasi kendaraan pada tahun ke-5
  • Jika di berlakukan kebijakan pembatan pakai tahun kendaraan bermotor untuk mobil 10 tahun dan motor 5 tahun, maka berapa jumlah kendaraan bermotor tersebut pada tahun ke-10
  • Gunakan Simula VENSIM

Penyelesaian:

mobil

Diagram simpal kausal model pertumbuhan mobil

kendaraan

Diagram stok dan flow pertumbuhan kendaraan

System Thinking (Berfikir System)


System Thinking merupakan sebuah pendekatan; dan pendekatan ini bisa digunakan untuk menguji kebenaran ilmiah maupun praktik di dalam penelitian. Contoh misalnya, buatlah suatu susunan urutan penelitian dengan menggunakan pendekatan diatas, sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti untuk sebuah tesis.

Misalnya:

  1. Hubungan antara populasi dan kelahiran adalah sebuah link positif. Semakin banyak populasi akan menyebabkan semakin banyak kelahiran.
  2. Hubungan antara kelahiran dan populasi adalah sebuah link yang juga positif. Semakin banyak kelahiran akan menyebabkan semakin banyak populasi.
  3. Kedua link positif ini akan membentuk loop positif. Artinya penambahan pada salah satu variabel, baik populasi maupun kelahiran akan menyebabkan penambahan terus menerus pada dua variabel tersebut.
  4. Hubungan antara populasi dengan kematian adalah sebuah link positif. Semakin banyak populasi akan menyebabkan orang yang mati semakin banyak.
  5. Sebaliknya hubungan antara kematian dengan populasi adalah link negatif. Semakin banyak kematian maka jumlah populasi akan semakin menurun.
  6. Hubungan keseluruhan antara populasi dengan kematian membentuk loop negatif.

Pada umumnya penggunaan pendekatan system thinking menghasilkan beberapa alternatif pemecahan masalah atau sering disebut dengan policy scenario planning. Seluruh skenario tersebut akan sangat tinggi validitasnya apabila dilakukan dengan menggunakan system dynamic. Mengapa? Adakah alasan lain yang dapat dilakukan untuk menvalidasi penelitian dengan pendekatan system thinking?

Alasannya karena dengan menggunakan system dynamic, metode ini

  • Mampu merepresentasikan keterkaitan antar variabel-variabel yang dikaji dan mampu menggambarkan interaksi dari masing-masing sistem serta mensimulasikan perilaku sistem apabila dilakukan intervensi terhadap sistem tersebut.
  • Lebih menekankan pada tujuan peningkatan pemahaman tentang bagaimana perilaku dimunculkan oleh struktur eksisting, serta bagaimana implikasi-implikasi perilaku yang dimunculkan pada saat sebuah kebijakan diintervensikan ke dalam struktur eksisting.

Alasan lain:

  • Kita tahu bahwa interaksi yang terjadi di dalam sistem sepanjang waktu akan mempengaruhi keadaan unsur-unsur lain di dalam sistem, sehingga struktur suatu sistem (system structure) sangat ditentukan oleh pola hubungan diantara unsur-unsurnya, sedangkan batasan sistem (system boundary) akan membatasi/memisahkan sistem dengan lingkungannya.
  • Karena itu, maka perilaku sistem yang selalu dipengaruhi oleh strukturnya maka analisis sistem lebih banyak mempertimbangkan hubungan antar unsur (inter relasi) dalam sistem dibandingkan dengan detil input dan output data. Melalui pemodelan interelasi, maka analisis sistem akan mampu menjelaskan perubahan-perubahan dari masing-masing unsur sistem terhadap perubahan waktu. Disini kita punya banyak rencana skenario terhadap kebijakan apa yang nanti akan kita ambil. Dinamika perilaku suatu sistem sangat ditentukan oleh struktur umpan balik (feedback loops) yang menyatakan hubungan sebab akibat antar unsur bukan hubungan karena adanya korelasi-korelasi statistik saja.

 

 

 

 

 

Kriteria Jembatan Belly


Struktur Jembatan Bailey mempunyai sistem panjang per-panel 3,048 meter, dengan bentang jembatan kelipatan dari panjang setiap panel. Pada jembatan Truss Rangka Baja, pedoman standard yang dipakai adalah ‘berat minimal’, sedangkan pada jembatan Bailey menggunakan pedoman standard ‘berat maksimal’. Hal tersebut dikarenakan konstruksi jembatan Bailey sangat mengutamakan keringanan beban.

Jembatan Bailey menggunakan komponen High Grade Material dengan persyaratan Yield Strength / titik leleh minimal = 345 MPa.

Berikut spesifikasi lengkap jembatan Bailey berdasar pedoman teknis yang dikeluarkan Bintek Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga dan memenuhi kriteria (SK.SNI) serta sesuai dengan standard AASHTO Internasional:

STRUKTUR: Jembatan Bailey
TIPE: SS, SSR, DS, DSR1, DSR2, TSR2,TSR3, QSR4
BENTANG: 30 s/d 200 FEET (dari 9,144 s/d 60,960 METER)

KRITERIA DISAIN:

AASHTO HS 15-44, memenuhi RSNI T-03-2005
AASHTO HS 20-44, memenuhi RSNI T-03-2005
AASHTO HS 25-44, memenuhi RSNI T-03-2005

KRITERIA PEMBEBANAN:

AASHTO HS 15-44, memenuhi RSNI T-02-2005
AASHTO HS 20-44, memenuhi RSNI T-02-2005
AASHTO HS 25-44, memenuhi RSNI T-02-2005
SISTEM PANJANG : Panjang per-Panel adalah 3,048 meter
BENTANG JEMBATAN : Bentang jembatan adalah kelipatan dari panjang setiap panel

LEBAR EFFEKTIF:

3,150 meter – Standard Wide(Single lane)
4,200 meter – Extra Wide(Single lane)
7,350 meter – Double Lane

TINGGI PANEL: 2,134 meter (Jarak center ke center Pin atas dan bawah dalam satu Panel)
SISTEM LANTAI: Lantai baja checker plate – Structure Ortho Tropic

PANEL UTAMA:

Baja profil Hot Rolled Chanel–100 (Titik leleh minimal = 345 MPa)
Baja profil Hot Rolled IWF–80 (Titik leleh minimal = 345 MPa)

GELAGAR UTAMA:

Baja profil Hot Rolled IWF 400 x 200 (Titik leleh minimal = 345 MPa)

MUTU TIPE MATERIAL:

Struktur Rangka Utama: Yield Strength / Titik leleh minimal = 345 MPa
Struktur RangkaSekunder: Yield Strength / Titik leleh minimal = 235 MPa
Pin Material 30 CrMnTi: Yield Strength / Titik leleh minimal = 1300 MPa
Baut, mur dan ring: High Strength Friction Grip Gr 8.8 atau ekivalen
Lantai Baja: Grade 4.6 atau ekivalen

Menghitung Kekuatan Pad Eyes Lashing


Menyambung tulisan saya zaman dulu waktu awal mula otak atik tentang kupingan pad eyes untuk keperluan lashing atau pengikatan, baik untuk securing atau untuk lifting, jadi senyum sendiri karena masih belum banyak tahu tentang apa itu pad eyes. Sederhana namun kadang menghitungnya tidak sesederhana itu.

Pada pin hole ada bearing stress check, and shear stress check. Ada tensile stress check, dan ada Hertz atau Contact Stress Check. Sedangkan pada base plate, ada tensile stress check, bending stress check, shear stress check, von mises stress check, dan kombinasi stress check sesuai dengan standard AISC H2-1.

IMG-20170622-WA0034

Dari contoh kasus ditas, maka cara tercepat menghitung kekuatan pad eyes untuk lashing seperti itu dengan program stress analysis yang disediakan di Autodesk Inventor.

Dimana:

  • Assign Material = Steel, Mild, Welded
  • Loadnya = 10 Tons
  • Pin Hole Diameter = 34 mm

Hasilnya:

Result_0_1

Result_0_2

Result_0_6

Kriteria:

  • Von Mises < 90% dari Yield Strength
  • Tensile Stress < 0.40 dari Yield Strength
  • Displacement < L/200

Kesimpulannya:

Von mises didapat 141.2 MPa < 225 MPa, untuk Tensile hasilnya 69.49 MPa < 100 MPa, dan untuk Displacement hasilnya 0.04mm < 1 mm. Oleh sebab itu maka design diatas cukup kuat untuk lashing SWL 10 Ton.

Ramp Way untuk Roll On Roll Off


Sebuah jembatan (ramp way) sudah harus disiapkan agar sarana angkut yang membawa struktur tersebut dapat masuk ke atas tongkang dengan selamat. Kegagalan pada proses ini dapat mengakibatkan jatuhnya struktur ke laut selama pengangkutan; dan tidak menutup kemungkinan kegagalan tersebut bisa terjadi pada saat proses Roll On/Roll Off tersebut.

Oleh karena itu desain jembatan rampa (ramp) harus benar-benar cukup kuat dan stabil sesuai dengan standar yang diminta dan berlaku. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa material yang digunakan adalah aman untuk proses RORO tersebut;- yang menggunakan modular trailer saat beban maksimum terjadi pada 1 (satu) line axle saat diatas rampa.

Contoh misalnya jika harus melakukan analisa kekuatan pada kondisi ramp plate yang dihamparkan antara dermaga (jetty) untuk menutupi cela atau gap dengan kapal tongkang tersebut. Akibat beban statis yang berada diatasnya, ada tegangan yang terjadi pada konstruksi ramp plate tersebut bagaimana mengetahui jika ramp way dari steel plate itu cukup kuat untuk dilewati oleh trailer?

Tegangan ini tidak boleh melebihi batas maksimum tegangan yield (σultimate) dari material ramp plate yang digunakan, dan tegangan ijin (σallowable) berdasarkan standar dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) atau menggunakan rujukan standar lain seperti kriteria dari AISC ASD 9th Edition.

Contoh misalnya sebuah ramp way dari steel plate yang dianalisa adalah double steel plate ASTM 36 dengan masing-masing ketebalan 1 inch yang akan digunakan untuk proses loadout module dengan menggunakan SPMT (Self Propeller Modular Trailer).

Maka, analisa kekuatan ramp plate dapat dilakukan dengan pendekatan ultimate dari beban maksimum bahan yang digunakan, sehingga dari hasil analisa, dapat diketahui beban yang terjadi pada posisi maksimal di 45 ton per axle line dan karakteristiknya.

Pada akhirnya, terdapat dua tujuan utama dari kajian ini, yaitu; untuk menerangkan pemodelan Finite Element ramp plate untuk loadout; dan untuk mengetahui beban ultimate yang bisa diberikan dan menguraikan perilaku ramp plate tersebut.

Perhitungan kekuatan ramp way dengan steel plate dapat menggunakan Metode Elemen Hingga (Fenite Element Method) yang bisa dibantu dengan software berbasis FEM selain menggunakan perhitungan manual.

Contoh Frame Analysis


Buat kita yang belajar Structure Engineering, maka hal ini adalah makanan sehari-hari, namun akan berbeda rasanya ketika kita yang biasa bekerja di perusahaan logistik untuk transportasi barang-barang proyek harus membuat atau menyediakan perhitungan ini sebagai salah satu syarat untuk melengkapi sebuah metode kerja.

Contohnya adalah ketika kita diminta untuk menghitung apakah skid frame untuk strand jack seperti contoh dibawah ini sudah cukup aman untuk mengangkat Steam Turbine Generator seberat 178 Ton termasuk untuk menggesernya dari suatu titik pengangkatan ke titik penurunan?

Rencana Pengangkatan Generator

Permasalahan:

  • Barang yang diangkat adalah sebesar 178 Ton ± 2 Ton = 180 Ton
  • Pengangkatan menggunakan alat Strand Jack dimana akan diperlukan 4 unit strand jack yang akan digunakan untuk menarik Generator tersebut dari bawah ke atas.
  • Frame H-Beam telah disediakan sebagaimana gambar dibawah ini, namun bagaimana cara memastikan Skid Frame tersebut aman untuk dipakai sebagai pendukung strand jack tersebut pada saat pengangkatan Generator seberat 180 ton tersebut?
  • Apa kriteria keselamatannya?

Gambak Skid Frame tampak Depan

Gambar Skid Frame tampak Samping

Batasan Masalah:

  • Kriteria keselamatan hanya sebatas untuk pengangkatan berat tersebut berdasarkan berat beban 180 Ton + 10% konsekuwensi faktor jika ada tambahan tambahan berat yang lain.
  • Hanya menganalisis skid frame saja berdasarkan material yang tersedia, dan berdasarkan sketsa gambar yang ada.

Metode:

  • Frame Analysis menggunakan Autodesk Inventor

Kriteria:

  • Kriteria AISC untuk Allowable Span = L/200
  • Kriteria ASD untuk Allowable Stress < Yield Strength (350 MPa)

Hasilnya:

Static Result Summary

Displacement < ASCI Criteria (L/200)

Kesimpulan:

Skid Frame tersebut diatas cukup aman untuk pengangkatan Beban seberat 180 Ton dikarenakan Simulasi Beban pada Frame Analysis sebesar 275 kN per Titik x 8 titik (atau Total Beban = 220 Tons), dengan Displacement yang terjadi sebesar 34.48mm atau lebih kecil dari L/200 (7220mm/200), dan Maksimum Stress yang terjadi di Sumbu Y semuanya kurang dari Allowable Stress

Demikian terima kasih.

Oh ya, Umumnya, di dalam banyak desain seperti baja struktural, tegangan maksimum (yield stress) dianggap sebagai tegangan patah. Meskipun baja atau bahan lainnya itu belum benar-benar patah (rupture) pada titik ini, dan biasanya akan terjadi deformasi dulu yang cukup signifikan pada kondisi ini.

Contoh Pemodelan System (Infinite Model)


Model ini mensimulasikan bahwa obyek yang akan datang tidak tentu atau bersifat acak. Misalnya, kendaraan bermotor yang akan tiba di SPBU tidak dapat dipastikan asal dan jumlahnya. Ada kemungkinan ia singgah di SPBU A hari ini, besok harinya akan mengisi di SPBU lain dan seterusnya.

Postulat yang dipakai pada model ini adalah sebagai berikit:

  • Pelanggan yang tiba memiliki distribusi Poisson. Maksudnya, terdapat kecenderungan (probablilitas) jumlah obyek yang tiba pada jumlah yang lebih besar daripada tingkat rata-rata kedatangan adalah kecil, sedangkan kecenderungan (probabilitas) jumlah obyek yang tiba pada jumlah lebih kecil daripada tingkat rata-rata kedatangan adalah besar.
  • Kampuan melayani memiliki diatribusi ekaponensial negatif, dimana; waktu pelayanan kepada pelanggan yang lebih singkat daripada waktu pelayanan rata-rata memiliki probabilita yang lebih besar, sedangkan untuk lebih lama dari waktu pelayanan rata-rata memiliki probabilitas yang lebih kecil.
  • Pelayanan pelanggan di fasilitas servis mengikiti disiplin:- Datang Pertama, Dilayani Pertama atau First In First Service.
  • Pada system dengan model Single Chanel, Single Phase, tingkat mampu layani ()> tingkat rata-rata kedatangan pelanggan.

Berikut adalah contoh-contoh dengan pemodelan ini:

Case #1

Rata-rata mobil yang tiba untuk diservice adalah 3 buah per jam  (λ=3) dan montir yang mengerjakan sekarang hanya satu orang dengan kapasitas pelayanan 4 unit mobil per jam (μ= 4). Hitung mobil yang antri dan lamanya dalam antrian; mobil yang ada dalam system dan lamanya mobil berada dalam syatem; serta hitung faktor penggunaan fasilitas.

Case #2:

Sebuah bandara udara hanya mempunyai sebuah landasan pacu (running way) dan setiap pesawat udara memerlukan waktu 5 menit untuk meluncur di landasan pacu pada waktu take-off dan landing. Jika diketahui pesawat yang landing 6 buah per jam, hitung jumlah pesawat  yang menunggu  giliran terbang atau mendarat; berapa jumlah pesawat yang ada dalam sistem; lama rata-rata untuk menunggu; lamanya dalam sistem; dan rasio penggunaan landasan pacu tersebut?

Case #3

Pelanggan (mobil) yang tiba di sebuah stasiun pengisian BBM (SPBU) memiliki distribusi dengan interval waktu yang tidak beraturan dan datanya disajikan dalam daftar dibawah ini.

Unit Ke Waktu untuk mengisi BBM (menit)

Case #4:

Sebuah bengkel ingin mengevaluasi keefektifian sebuah sistem yang dimilikinya, dimana rata-rata mobil yang tiba untuk diservice adalah 3 buah per jam. Montir yang dipekerjakan sekarangbhanya satu orang dengan kapasitas pelayanan 4 mobil per jam. Akan tetapi apabila montir ditambah menjadi  2 orang diharapkan dapat meningkat menjadi 12 unit per jam. Upah mekanik per jam 75.000,- dan jam kerja mekanik sehari 8 jam. Kerugian karena pelanggan tidak dapat dilayani diperkirakan 300.000,- Hitunglah mobil yang antri; lamanya dalam antrian; mobil yang ada dalam system; laba mobil berada dalam sistem; dan faktor penggunaan fasilitas, apakah penambahan tenaga mekanik menguntungkan perusahaan?

Hayoo silahkan dipecahkan.

Operasionalisasi QFD


door-design

Sample of Designing Car Door

Langkah awal dari Quality Function Deployment (QFD) adalah membuatkannya sebuah rumah mutu atau house of quality. Oleh karenanya lebih dahulu harus diketahui hal-hal seperti apakah yang diinginkan oleh konsumen, dan apa yang disyaratkan oleh produsen. Ada customer requirements dan ada engineering characteristics. Hal yang diinginkan oleh konsumen umumnya diperoleh melalui survey pasar, baik yang dilakukan oleh aparatur penjualan (salesperson) ataupun oleh peneliti yang dikoordinasikan oleh departemen riset dan pengembangan.

Sebelum masuk ke penerappan QFD, lebih dahulu akan dikemukakan bentuk umum house of quality (HOQ). Bentuk umum rumah mutu dimaksud untuk mengetengahkan kasus guna menemukan keinginan pelanggan terhadap suatu produk (misalnya pintu mobil), kemudian menerjemahkan keinginan itu menjadi desain pintu.

Keinginan pelangggan dihubungkan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh produsen guna menemukan besaran koefisien korelasinya. Koefesien korelasi yang menyatakan derajat keeratan hubungan spesifikasi konsumen dengan spesifikasi produsen dipetakan dalam matriks di badan utamah rumah mutu tersebut.

Korelasi bermanfaat sebagai informasi mengenai faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mengenai produk yang diinginkan oleh pelanggan dimaksud. Sudah barang tentu koefisien korelasi tersebut diperoleh melalui aplikasi metode statistika, dimana spesifikasi keiingin atai persyaratan produsen dinyatakan sebagai variabel gayut (Y) dan spesifikasi keinginan pelanggan sebagai variabel bebas (Xi).

Erat atau tidak eratnya hubungan atau korelasi dinyatakan dalam matriks yang tersedia dengan menggunakan simbol seperti yang dinyatakan dalam contoh kasus pada gambar 1 dibawah ini.

Rumah Mutu Usaha Laundry

Gambar (1) Rumah Mutu Usaha Laundry

Dengan QFD seperti diatas, keiinginan dan kebutuhan pelangggan dapat diterjemahkan ke dalam desain dan proses produksi atau jasa yang ditawarkan. Keberatan dan tanggapan pelangggan dalam proses pelayanan atau penyerahan produk (process of feedback) berguna sebagai alat untuk memperbaiki mutu pelayanan yang ditawarkan atau produk yang dihasilkan.

Menghitung Rasio Likuiditas Perusahaan


Rasio Likuiditas menunjukkan  kemampuan suatu  perusahaan  untuk  memenuhi kewajiban  keuangannya  yang  harus segera  dipenuhi, atau  kemampuan   perusahaan  untuk memenuhi  kewajiban  keuangan pada saat ditagih (S. Munawir, 1995 hal 31).

Rasio  likuiditas  terdiri dari :

Current Ratio

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.

Rumus  :

Current ratio = (Aktiva Lancar / hutang lancar)

Pada tahun 2010, CR = (227.819.168.461 / 123.450.557.939) = 1,845

Setiap Rp. 1 utang lancer dijamin oleh 1,8 harta lancar atau perbandingannya antara aktiva lancar dengan hutang lancar adalah 1,8 : 1

 

Acid test ratio (Ratio Immediate Solvency)

Merupakan rasio yang digunaka untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva yang lebih likuid.

Rumus :

Quick Ratio = ((Aktiva Lancar – Persediaan) / Hutang lancar))

Pada tahun 2010, ((QR = 227.819.168.461 – 82.424.270.814 / 123.450.557.939)) = 1.17

Rata-rata industri tingkat liquidnya / quick ratio adalah 0,5 kali sedangkan perusahaan tersebut 1,17 maka keadaanya sangat baik karena perusahaan dapat membayar hutang walaupun sudah dikurangi persediaan.

Ratio Solvabilitias

Rasio ini disebut juga Ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank). Suatu  perusahaan yang solvable belum tentu likuid dan sebaliknya sebuah perusahaan yang insolvable belum tentu likuid.

Total debt to equity ratio (Rasio hutang terhadap Equitas)

Merupakan Perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya .

Rumus:

Total Debt to Equity Ratio = (Total Hutang / Ekuitas Pemegang Saham) x 100%

pada tahun 2010, = (140.879.700.667 / 134.499.083.729) x 100% = 1,04 = 100%

Perusahaan dibiayai oleh utang 100% untuk tahun 2010  menunjukan kreditor menyediakan Rp. 100,- untuk setiap Rp. 100

Total debt to asset ratio (Rasio Hutang terhadap Harta)

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

Rumus:

Total Debt  to Asset  Ratio = (Total Hutang / Total aktiva) x 100%

Pada tahun 2010, = (140.879.700.667 / 275.390.730.449) = 0,511 = 51%

Pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang untuk tahun 2010 artinya bahwa setiap Rp. 100,- pendanaan perusahaan Rp. 51,- dibiayai dengan utang dan Rp. 49 disediakan oleh pemegang saham.

Ratio Rentabilitas

Rasio ini disebut juga sebagai Ratio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Yang termasuk dalam ratio ini adalah :

Gross Provit Marginal (Margin Laba Kotor)

Merupakan perandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.

Rumus :

GPM = (Laba Kotor / Penjualan Bersih) x 100%

Pada tahun 2010, = (62.009.766.595 / 516.581.827.768) 100% = 0,12 = 12%

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan menghasilkan laba kotor dari pejualan bersih adalah sebesar 12%

Net Profit Marginal (Margin Laba Bersih)

Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.

Rumus:

NPM = (Laba setelah pajak / Total Aktiva) x 100%

Pada tahun 2010, = (28.441.593.720 / 516.581.827.768) 100% = 0,05 = 5%

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan bersih adalah sebesar 5%

Operating Profit Margin

Untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Operating profit margin mengukur persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak. Pada umumnya semakin tinggi rasio ini maka semakin baik

RUMUS:

OPM = (Laba usaha / Penjualan Bersih) x 100%

Pada tahun 2010, = (39.294.864.546 / 516.581.827.768) x 100% = 0,07 = 7%

Operating ratio mencerminkan tingkat efesiansi perusahaan, sehingga ratio ini rendah menunjukan keadaan yang baik karena berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga rendah, dan yang tersedia untuk laba besar.

Return of Asset

Adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aktiva yang ada dan setelah biaya-biaya modal (biaya yang digunakan mendanai aktiva) dikeluarkan dari analisis.

RUMUS:

ROA = (Laba bersih setelah pajak / total aktiva) x 100%

Pada tahun 2010, = (28.441.593.720 / 275.390.730.449) x 100% = 0,10 = 10%

Laba bersih yang diperoleh dari operasi perusahaan dengan jumlah aktiva yang digunakan untuk  menghasilkan keuntungan adalah sebesar 10%

Return of Equity

Adalah Tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi modal perusahaan. Dalam pengertian ini, seberapa besar perusahaan memberikan imbal hasil tiap tahunnya per satu mata uang yang diinvestasikan investor ke perusahaan tersebut.

RUMUS:

ROE = (Laba Bersih Setelah Pajak / Total Modal Pemegang Saham) x 100%

Pada tahun 2010, = (28.441.593.720 / 134.499.083.729) x 100% =  0,021 = 2%

 

Rasio Perputaran Piutang

Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang.

RUMUS:

Perputaran Piutang = (Penjualan / piutang usaha)

dalam hasil ini tingkat pengembalian atau imbal balik perusahaan terhadap investor setiap tahunnya adalah sebsar 2%

Yang dimaksudkan dengan “Penjualan” dalam formula ini adalah: Total nilai penjualan untuk periode yang diukur, 1 Jan s/d 31 Des 2012 misalnya.

Sedangkan “Rata-rata Piutang” adalah: Rata-rata saldo piutang untuk periode yang sama. Menghitung nilai rata-rata ini yang kadang menjebak.

Dalam menghitung rata-rata saldo piutang, terkadang seseorang hanya menggunakan “saldo awal” dan “saldo akhir” piutang, dijumlahkan, lalu dibagi dua. Misalnya: Yang diambil hanya saldo piutang dagang per 31 Januari ditambah saldo piutang dagang per 31 Desember, lalu dibagi dua. Cara ini akan menghasilkan nilai rata-rata piutang yang tidak tepat.

Cara terbaik untuk menghitung nilai rata-rata piutang adalah dengan jalan: menjumlahkan semua saldo piutang disepanjang periode (dari 31 Jan + 28 Feb + 31 Mar… dan seterusnya hingga 31 Desember), lalu dibagi total bulan—atau 12 jika perusahaan menggunakan periodisasi tahunan.

Skripsi tentang Alat Weighing (Pengantar)


Puji syukur kehadirat Tuhan Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak lupa semoga sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan pengaruh besar bagi kehidupan dan peradaban manusia maupun ilmu pengetahuan.

Dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN akan memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Liberalisme pasar bebas barang dan jasa akan memacu investasi dalam negeri dan menarik tenaga kerja asing ke Indonesia. Masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia dimungkinkan dapat menjadi ancaman apabila tenaga kerja Indonesia tidak mempunyai daya saing yang sebanding. Oleh karena itu, peningkatan daya saing tenaga kerja harus tetap dilakukan agar bangsa Indonesia tidak menjadi buruh di negeri sendiri. Hal tersebut dapat di antisipasi dengan mengkorelasikan input penunjang tenaga kerja sehingga tenaga kerja Indonesia memiliki kesiapan mental dan kemampuan.

IMG-20150929-WA0012

Tantangan berikut yang dihadapi Indonesia sekarang dalam industri minyak dan gas bumi, khususnya SKK Migas adalah turun tajamnya harga minyak mentah. Bahkan saat ini harga minyak masih di bawah USD 40,- barel per hari. Meskipun demikian Indonesia masih memiliki kepentingan dalam eksplorasi sumber-sumber minyak baru dan pengelalolaan sumber-sumber tersebut untuk menunjang perekonomian Indonesia dan kemakmuran bangsa. Namun demikian, cadangan minyak dan gas tersebut masih bersembunyi di lapisan perut bumi yang cukup dalam. Banyak pula cadangan migas tersebut berada di bawah dasar laut dalam yang ombaknya ganas. Karenanya, industri migas merupakan industri padat modal dan padat teknologi serta penuh resiko.

Dalam Tugas Akhir ini, menimbang atau weighing barang yang ukuranya besar dan sangat berat hingga ratusan ton bahkan ribuan ton khususnya untuk industri eksplorasi minyak lepas pantai memerlukan cara (metode kerja) yang khusus. Informasi akhir dari hasil penimbangan juga harus berkualitas serta dapat dipertanggungjawabkan.

11206950_10204919747342624_3929901894002554739_n

Indonesia Project Logistics adalah perusahaan jasa yang bergerak di bidang transportasi proyek minyak dan gas, dan salah satu jasanya adalah menimbang (weighing) struktur/module anjungan minyak lepas pantai seperti Jacket dan Topside.

Analisis Desain Operasional Perhitungan Weighing menggunakan mesin EVO Synchronous Jacking & Weighing System adalah studi kasus di PT. Indonesia Project Logistics untuk proyek Husky-CNOOC Madura BD Field Development yang diproduksi dan difabrikasi di PT. PAL Indonesia selaku perusahaan EPC.

Analisisnya tentang system perancangan kerja (work study) yang meliputi metode-metode kerja, parameter-parameternya, tentang kelesamatan kerja (dengan job risk assement-nya), tentang teknik operasionalnya yang sesuai dengan standar yang diharuskan, serta penilaian terhadap kualitas hasil akhir (output) dari kegiatan operasional tersebut. Ada perancangan (design) yang matang sehubungan dengan pendukung beban saat penimbangan (weighing). Ada pengaturan dan pengorganisasian SDM yang berhubungan dengan kegiatan operasional tersebut termasuk didalamnya jalur komunikasi hingga masalah keselamatan kerja, kemudian pelaksanaan pekerjaan yang sesuai, serta pengendalian hasil keluaran dari operasi penimbangan agar kualitas hasil laporan tersebut terverifikasi dan sesuai dengan kaidah kaidah yang berlaku dibidang teknik, keindustrian, dan keselamatan kerja.

Penulis menyadari bahwa dalam Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kekurangan dalam banyaknya aspek yang harus dipelajari dan dikaji, dan dengan penuh kerendahan hati penulis mengharapkan saran serta kritik dari pembaca untuk perbaikan dan pengembangan kajian selanjutnya.

Dan dalam kesempatan ini, ijinkanlah penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang mengenal penulis dan telah menghabiskan waktu bersama selama belajar di Universitas Borobudur, semoga apa yang sudah kita luangkan ada manfaatnya dan berguna bagi bangsa dan negara.

DSC_0762

Mengukur Faktor yang Mempengaruhi Strategi Perusahaan


Strategi adalah penjabaran dari misi dan misi lahir dari visi yang konsisten. Strategi berada di beberapa tingkat, mulai dari corporate atau group of companies, kemudian divisi, lalu departmen, dan terakhir unit yang terkecil dalam perusahaan.

Setelah sekian tahun berjalan, bisa saja visi yang biasanya datang dari pemilik atau pendiri perusahaan mengalami perubahan dalam arti penyempurnaan atau perluasan karena perkembangan yang dialami, dan karenanya misi serta strategi juga perlu disesuaikan. Visi merupakan tanggung jawab dari pemilik atau pendiri perusahaan, misi biasanya menjadi tanggung jawab top manajemen dan strategi menjadi tanggung jawab middle dan low level manajemen.

Biasanya antara visi dan misi tidak terlalu jauh penyimpangan dan jaraknya. Tetapi, yang sering terjadi adalah antara misi dan strategi, tanpa kendali, akan terjadi penyimpangan atau arah, oleh karena para pembuat strategi dihadapkan dengan fakta di lapangan yang tidak sinkron dengan misi yang dikehendaki. Oleh karena itulah perlu dari waktu ke waktu dilakukan kaji ulang, di mana strategi harus disesuaikan dengan mengakomodasi faktor internal (visi dan misi) dan faktor eksternal (implementasi di lapangan).

Metode Pengukuran: Regression Multinomial Logistics

Jika kita belajar tentang Analisis Regresi Logistik Multinomial, maka kita dapat menggunakannya untuk melihat apakah ada pengaruh variable independen terhadap variable dependen yang berbentuk kategori lebih dari dua nilai.

Contoh Kasus:

Sebuah perusahaan ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi strategi perusahaan tersebut ketika tiga pilihan diterapkan, yaitu:

  • Inovasi
  • Minimalisasi Biaya, dan
  • Imitasi

Adapun parameternya, dilihat dari:

  • Free Cashflow
  • Pengalaman (Experience)
  • Reputasi
  • Lingkungan (Environment)
  • Suasana Kerja (Volatility), dan
  • Komplekisitas yang terjadi (Complexity)

 

File Download disini.

Bagaimana Cara Analisisnya atas Pengukuran tersebut?

Strategi dibuat untuk memenangkan sebuah persaingan, untuk mencapai sasaran pada waktunya, untuk meningkatkan performa, namun tidak semudah seperti membuat strategi itu sendiri dalam pelaksanaannya. Kita harus pandai-pandai membaca faktor eksternal, faktor lingkungan baik pada saat kita membuat strategi maupun beberapa tahun ke depan sesuai dengan program jangka menengah dan jangka panjang. Baca lebih lanjut

Menghitung HP prime mover untuk tanjakan


Ada pertanyaan dari teman sebelah, katanya ingin tahu cara menghitung berapa Horse Power sih yang diperlukan untuk menarik Module seberat 300 Ton apabila jalan menanjak 5 derajat dengan asumsi kecepatan kendaraan saat berjalan misalnya hanya 5 km/jam. Untuk menjawab kasus seperti ini diperlukan beberapa konversi satuan dengan mengabaikan friksi, jarak jalan, ataupun tinggi tanjakan, apalagi ada tikungan.

2 prime

Dengan demikian dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

Diketahui:

  • Berat Barang Total = 300 Ton (300.000 kg)
  • Gravitasi = 10 m/detik
  • Kecepatan = 5 km/jam
  • Tanjakan = 5o

Ditanyakan:

  • Berapa Horse Power agar Kendaraan dengan Beban tersebut dapat menanjak?

img784

Jawab:

  • Berat = Massa x Gravitasi = 3.000.000 N (newton)
  • Gaya yang diperlukan untuk mendorong = Berat x Sin (Tanjakan) =  261,467.23 N

Keperluan Power yang diperlukan untuk naik menanjak menggunakan rumus:

P = f.v + W.sinθ.v

Karena pada saat kendaraan naik menanjak pada kemiringan tertentu yang dinyatakan dengan θ, maka ada gaya lain yang memaksakan kendaraan tersebut turun sebesar f’= W.sinθ, dan oleh karenanya maka kesimbangan gayanya dimasukkan seperti formulasi diatas, sehingga didapatkan:

  • P = 261467.23 N x 5 km/jam + 3.000.000 x SIN(5o) x 5 km/jam =  726,297.86 N.m/det
  • Dikonversi ke HP 726,297.86 N.m/det x  0.00135962 = 987.49 HP (metric)

Kira-kira begitu Mbak Titan :) Jadi pakai 2 Prime Mover (misal FH 16 @550 HP buatan Volvo)

Referensi:

Menghitung Biaya Pemakaian Listrik


Di dalam Industri Manufaktur, peralatan yang paling banyak dipakai dalam produksi adalah peralatan yang menggunakan daya listrik sebagai energi atau tenaga untuk dapat mengerakkan peralatan tersebut. Peralatan-peralatan Listrik tersebut antara lain: Soldering Iron, Electric Screw Driver (Obeng Listrik), Mesin Solder, Mesin Bonding, Ionizer, Komputer, Air Conditioner (AC), Kompresor Angin dan Alat-alat uji dan pengukuran seperti  Osciloscope, Voltmeter, Signal Generator dan  Audio Analyzer.

Biaya Listrik merupakan salah satu biaya operasional produksi yang tertinggi setelah biaya Tenaga Kerja (Manpower). Di negara maju seperti Amerika Serikat, biaya listik yang digolongkan sebagai “Electric Utility Cost” memakan porsi biaya sekitar 7% ~ 16% dari total biaya operasional produksi (EIA, 2015) sehingga sangat penting sekali bagi kita untuk melakukan penghematan dan optimasi pemakaian peralatan listrik tersebut.

Untuk meng-optimasi-kan pemakaian listrik dan penghematan biaya listrik, tentunya kita harus mengetahui seberapa banyak peralatan tersebut meng-konsumsi-kan listriknya yang kemudian akan kita konversikan ke dalam biaya pemakaian listrik. Untuk melakukan perhitungan biaya pemakaian listrik, kita juga harus mengetahui tarif listrik yang telah ditetapkan oleh PLN setempat.

Berikut ini cara untuk menghitung biaya pemakaian listrik untuk peralatan-peralatan yang sering digunakan dalam produksi.

Kita mengambil contoh sebuah Pabrik yang berskala industri menengah ke atas, maka tarif yang kita gunakan adalah tarif yang ditentukan oleh PLN.  Contohnya di golongan I-1/TR (industri golongan 1 dengan memakai Tegangan Rendah) seperti lampiran dibawah ini.

tarif

Ada dua Jenis label informasi tentang penggunaan daya listrik pada peralatan produksi tersebut, yaitu adanya penulisan pemakaian Watt dan yang satu jenis lagi hanya tertuliskan Voltage dan Ampere. Berikut ini adalah cara perhitungan untuk kedua jenis label pada peralatan-peralatan listrik:

Adanya Informasi tentang Daya (Wattage) Pemakaian Listrik di Peralatan

Contoh Kasus I
Contoh Peralatan yang ingin dihitung biaya pemakaian listriknya adalah Solder yang bermerek Hakko dengan konsumsi daya sebesar 60W dan Tegangan listrik yang dipakainya adalah 230 Volt (label konsumsi daya listrik, seperti digambar bawah ini).

daya listrik soldering iron

Penyelesaiannya :

Diketahui :
Tarif / kWh: Rp. 1112,-
Konsumsi listrik : 60W (0.06kW)
Biaya Listrik per Jam = tariff/kWh x Wattage
Biaya Listrik per Jam = Rp. 1112 x 0.06 kW
Biaya Listrik per Jam = Rp. 66,72/Jam

Jika di Pabrik tersebut memiliki 30 unit Soldering Iron yang dihidupkan selama 24 Jam per hari dalam 30 hari kerja. Maka Biaya pemakaian Listrik dalam sebulan adalah :

Rp. 66,72 x 30 unit x 24 Jam x 30 hari = Rp. 1.441.152,- per bulan.

Contoh Kasus II
Di Pabrik yang sama, Mesin yang ingin dihitung biaya pemakaiannya adalah Mesin Solder dengan Konsumsi daya listrik sebesar 33 KiloWatt pada tegangan 380Volt.

Penyelesaiannya :

Diketahui :
Tarif / kWh: Rp. 1112,-
Konsumsi listrik : 33 kW
Biaya Listrik per Jam = tariff/kWh x Wattage
Biaya Listrik per Jam = Rp. 1112 x 33kW
Biaya Listrik per Jam = Rp. 36.696,-/Jam

Jika di Pabrik tersebut memiliki 5 unit Mesin Solder yang dihidupkan selama 24 Jam per hari dalam 30 hari kerja. Maka Biaya pemakaian Listrik Solder Mesin tersebut dalam sebulan adalah :

Rp. 36.696,- x 5 unit x 24 Jam x 30 hari = Rp. 132.102.600,- per bulan.

Hanya terdapat informasi tentang Voltage (Tegangan) dan Ampere (Arus Listrik) di Peralatannya

Jika di peralatan tersebut tidak tertulis Daya atau Wattage pemakaian Listrik, maka kita dapat melakukan perhitungan Daya atau Wattage-nya berdasarkan Voltage dan Ampere yang tertera di Peralatan tersebut.

daya listrik lcd monitor

Contoh Kasus III
Masih di Pabrik yang sama, Sebuah LCD Monitor hanya tertulis Power Rating AC 100~240 Volt dengan pemakaian Arus Listrik sebanyak 1.5 Ampere. Berapakah Biaya Pemakaian Listrik tersebut ?

Penyelesaiannya
Tarif / kWh: Rp. 960,-
Tegangan: 220 Voltage (karena di Indonesia, PLN mengeluarkan tegangan 220V)
Arus Listrik: 1.5A

Pertama, kita harus hitung Daya (Wattage) pemakaian listriknya terlebih dahulu.
Watt = Volt x Ampere
Watt = 220V x 1.5A
Watt = 330 Watt (0.33kW)

Setelah kita mengetahui Watt-nya, perhitungan selanjutnya sama dengan cara diatas, yaitu :
Biaya Listrik per Jam = tariff/kWh x Wattage
Biaya Listrik per Jam = Rp. 960 x 0.33
Biaya Listrik per Jam = Rp. 316.8/Jam

Jika di Pabrik tersebut memiliki 15 unit LCD Monitor yang dihidupkan selama 12 Jam per hari dalam 20 hari kerja. Maka Biaya pemakaian Listrik untuk LCD Monitor tersebut dalam sebulan adalah :

Rp. 316.8 x 15 unit x 12 Jam x 20 hari = Rp. 1.140.480,- per bulan.

Catatan :
Karena Satuan perhitungan Listrik adalah Kilo Watt Per Jam atau Kilo Watt per Hour (kWh) maka Daya atau Wattage pada peralatan tersebut harus di dijadikan ke Kilo Watt terlebih dahulu (1 Watt = 0.001 kilo Watt).

Keterangan Kategori Ketinggian Tegangan berdasarkan PT. PLN :

  • Tegangan Rendah (TR) : Tegangan dibawah 1,000 Volt
  • Tegangan Menengah (TM) : Tegangan 1,000 Volt sampai 35,000 Volt
  • Tegangan Tinggi (TT) : Tegangan 35,000 sampai 245,000 Volt
  • Tegangan Extra Tinggi (TET) : Tegangan diatas 245,000 Volt

(Masing-masing kategori dikenakan Tarif Dasar yang berbeda-beda)

Cara Perhitungan Pemakaian Listrik di atas dapat juga dipakai untuk pemakai Listrik lainnya seperti perumahan, pertokoan dan kampus/sekolah.

Pengaruh Hutang, Ekuitas, dan Aktiva terhadap Profitabilitas


Sebuah industri pembuatan pembuatan textile ingin mengetahui hubungan antara Jumlah Aktiva Tetap, Hutang Jangka Panjang, dan Equity secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan dilihat dari Profitabilitas Perusahaan. Data Hasil dari Laporan Keuangan Perusahaan didapatkan data sebagai berikut:

Pengaruh Aktiva Hutang Equitas terhadap Profitabilitas

Bagaimana analisisnya?

Untuk itu, sebelumnya harus faham dahulu apa itu regresi, regresi linier, regresi linier berganda, multikolinieritas, autokorelasi, statistik, pengujian Durbin-Watson, mana variable dependent-nya dan mana variable independent-nya.

Dengan menggunakan metode analisa statistik regresi bergandan (multiple regression) hasil penelitian didapat sebagai berikut:

Hasil Uji regresi Berganda

Dari output diatas diketahui:

  • R-square sebesar 81,5%
  • Variabel yang digunakan adalah X1 aktiva tetap, X2 hutang jangka panjang,  X3 ekuitas dengan F sebesar 3.955 dan p-Sig. = 0.072.
  • Dengan pengujian hipotesis maka:H0 = model regresi tidak layak digunakan, H1 = model regresi layak digunakan
  • α = 0.05
  • Daerah kritis. H0 ditolak jika p value < 0.05
  • Statistik Uji. P value = 0.072
  • Kesimpulan: karena p value > 0.05 maka H1 ditolak sehingga model regresi tidak layak digunakan.
  • Adapun model regresi yang diperoleh yaitu:Y = 329832997.865 – 0.008X1 – 0.103X2 + 0.138X3
  • Nilai Durbin-Watson adalah 1.075

Metode pengujian Durbin-Watson (uji DW) harus mengikuti ketentuan sebagai berikut:

  • Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hopotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
  • Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
  • Jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Lampiran Tabel Durbin-Watson (DW) bisa dilihat disini.

Dari hasil output di atas didapat nilai DW yang dihasilkan dari model regresi adalah 1.075. Sedangkan dari tabel DW dengan signifikansi 0,05 dan jumlah data (n) = 10, seta k = 3 (k adalah jumlah variabel independen) diperoleh nilai dL sebesar 0.525 dan dU sebesar 2.016. Karena nilai DW (1,.075) berada pada daerah antara dL dan dU, maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti atau berada di daerah keragu-raguan.

Catatan: Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi atau tidak terjadi autokorelasi.

corelative

Hubungan Pengaruh (correlations)

Hipotesis:

  • H0 = tidak ada korelasi antara dua variabel
  • H1 = terdapat korelasi antara dua variabel

Kriteria:

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikasi (α) 5% dengan demikian:

  • Jika Pvalue (Sig) > 0,025 maka H0 diterima
  • Jika Pvalue (Sig) < 0,025 maka H0 ditolak

Hasil Uji:

  • Profitabilitas → Aktiva Tetap, Pvalue (Sig = 0.380) > 0.05, maka H0 diterima
  • Profitabilitas → Hutang Jangka Panjang, Pvalue (Sig = 0.889) > 0.05, maka H0 diterima
  • Profitabilitas → Ekuitas, Pvalue (Sig = 0.191) > 0.05, maka H0 diterima
  • Aktiva Tetap → Hutang Jangka Panjang, Pvalue (Sig = 0.244) > 0.05, maka H0 diterima
  • Aktiva Tetap → Ekuitas, Pvalue (Sig = 0.899) > 0.05, maka H0 diterima
  • Hutang Jangka Panjang → Ekuitas, Pvalue (Sig = 0.006) < 0.05, maka H0 ditolak

Kesimpulan:

  • Korelasi Aktiva Tetap → Profitabilitas : tidak ada
  • Korelasi Hutang Jangka Panjang → Profitabilitas : tidak ada
  • Korelasi Ekuitas → Profitabilitas  : tidak ada
  • Korelasi Hutang Jangka Panjang → Aktiva Tetap: tidak ada
  • Korelasi Ekuitas → Hutang Jangka Panjang : tidak ada
  • Korelasi Hutang Jangka Panjang → Ekuitas: ada

Validitas & Reliabilitas


Membahas masalah validitas, artinya berkaitan dengan instrumen atau alat ukur (Gendro Wiyono, 2011). Definisi pengukuran menurut Jogiyanto (2007) adalah pemberian nilai properti dari suatu obyek. Obyek dalam hal ini dapat berupa berusahaan, manusia, barang, dan lain-lain. Sedangkan properti adalah karakteristik dari obyek, bisa berupa propoerti fisik, ekonomi, sosial, ataupun psikologis.

Setelah instrumen disusun, selanjutnya harus diyakini bahwa instrumen tersebut memang benar-benar dapat mengukur senyatanya (actually) dan seakuratnya (accurately) terhadap konsep yang diukur. Pengukuran konsep senyatanya berhubungan dengan validitas, dan pengukuran seakuratnya berhubungan dengan reliabilitas. Instrumen yang valid artinya intruumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Ada beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengukur reliabilitas instrumen, diantaranya adalah test berulang (test and retest); bentuk paralel (parallel form); model belah dua (split half) Spearman Brown; dan Metode Alpha (Cronbach’s).

Disini saya hanya ingin membahas metode Alpha, karena metode ini banyak dipakai dan rumus yang digunakan tidak terpengaruh jika varian dan kovarian dan komponen-komponennya tidak sama.

Persamaannya adalah:

rumus cronbach

Dimana:

  • ∝ = Cronbach’s Coefficient Alpha atau reliabilitas instrumen
  • k = jumlah pecahan atau banyak butir pertanyaan
  • ∑σ²xL = total dari varian masing-masing pecahan
  • σ²x = varian dari total skor

Uji reliabilitas dapat digunakan untuk mengetahui konsistenasi alat ukur, apakah alat pengukur yang  digunakan dapat diandalkan  dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang.

Baca lebih lanjut

Dosen Vs Mahasiswa + IQ (Anacova)


Dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui apakah ada pengaruh perbedaan dosen pengajar terhadap nilai mata kuliah mahasiswa, misalnya mata kuliah menggambar teknik. Terdapat 3 dosen pengajar mata kuliah yang sama (namanya dosen 1, dosen 2, dan dosen 3). Dalam kenyataannya, terdapat faktor lain yang mempengaruhi mahasiswa, misalnya IQ-nya Mahasiswa. Bener nggak sih ada pengaruhnya? Nah, datanya sepetrti tabel dibawah ini:

Pengaruh Dosen &amp; IQ pada Nilai MHS

Bagaimana cara teknis analisisnya?

Disini kita memerlukan Analysis of Covariance atau sering disebut dengan Anacova. Teknik analisis sangat berguna untuk meningkatkan presisi sebuah percobaan, karena didalamnya dilakukan pengaturan terhadap pengaruh peubah bebas lain yang tidak terkontrol (Joko Sulistyo, 2011). Anacova digunakan jika peubah bebasnya mencakup peubah kuantitatif dan kualitatif.

Langkah Pengujian:

  • Definisikan variable dan masukkan data ke SPSS (version 23)
  • Pilih menu Analyze → General Linier Model → Univariate
  • Masukkan variabel Nilai ke Dependent Variable, variabel Dosen ke Fixed Factor(s), dan IQ ke Covariate seperti screen dibawah ini

Anacova-Univariate

  • Tekan/Click OK

Hasil Outputnya:

Hasil Univariate Analysis of Variance

Uji Hipotesis I:

  1. H0 = Tidak terdapat hubungan antara IQ dan nilai Mahasiswa.H1 = Terdapat hubungan antara IQ dan nilai Mahasiswa
  2. α = 0.05
  3. Daerah kritis. H0 ditolak jika p value (Sig.) < 0.05
  4. Statistik Uji. Hasil p value (Sig.) = 0.000
  5. Kesimpulan: Karena p value (Sig.) < 0.05 maka Hditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara IQ dengan nilai Mahasisswa. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa asumsi Anacova telah terpenuhi.

Uji Hipotesis II:

  1. H0 = Tidak terdapat hubungan antara Dosen Pengajar dan nilai Mahasiswa.H1 = Terdapat hubungan antara Dosen Pengajar dan nilai Mahasiswa
  2. α = 0.05
  3. Daerah kritis. H0 ditolak jika p value (Sig.) < 0.05
  4. Statistik Uji. Hasil p value (Sig.) = 0.024
  5. Kesimpulan: Karena p value (Sig.) < 0.05 maka Hditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Dosen Pengajar dengan nilai Mahasisswa.

Uji Hipotesis III:

  1. H0 = Tidak terdapat hubungan antara IQ dan Dosen terhadap nilai Mahasiswa.H1 = Terdapat hubungan antara IQ dan Dosen terhadap nilai Mahasiswa
  2. α = 0.05
  3. Daerah kritis. H0 ditolak jika p value (Sig. Corrected Model) < 0.05
  4. Statistik Uji. Hasil p value (Sig. Corrected Model) = 0.000
  5. Kesimpulan: Karena p value (Sig. Corrected Model) < 0.05 maka Hditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh IQ dan Dosen terhadap nilai Mahasisswa.

Data Materi silahkan download disini.

Sumber: Joko Sulistyo Si., 6 hari Jago SPSS 17, Penerbit Cakrawala, 2011, Jakarta

Analisis Tumpuan Beban


Kasus terjadi pada saat kita diminta untuk menimbang struktur besar dengan sekali angkat untuk diketahui berapa sih total beratnya dan dimana sih letak titik tengahnya.

12038186_992675850796632_1538670030856576750_n

Kemudian kita ingin mengetahui apakah benar support seperti gambar dibawah ini cukup kuat ketika kita jack dengan kapasitas jack 200 Ton?

12118778_10206742988246263_8766537267946097673_n

 

Untuk mengetahuinya maka diperlukan pemodelan. Disini saya simulasikan dengan menggunakan Autodesk Inventor Professional dengan desain sebagai berikut:

Load_0_1

Takanan Sebesar 200 Ton

Physical

Mass 10.8074 kg
Area 2294150 mm^2
Volume 10807400 mm^3
Center of Gravity x=-22.9126 mm
y=120.174 mm
z=0 mm

Simulation:1

General objective and settings:

Design Objective Single Point
Simulation Type Static Analysis
Last Modification Date 12/2/2015, 7:57 AM
Detect and Eliminate Rigid Body Modes No
Separate Stresses Across Contact Surfaces No
Motion Loads Analysis No

Mesh settings:

Avg. Element Size (fraction of model diameter) 0.1
Min. Element Size (fraction of avg. size) 0.2
Grading Factor 1.5
Max. Turn Angle 60 deg
Create Curved Mesh Elements No
Use part based measure for Assembly mesh Yes

 Material(s)

Name STEEL A36
General Mass Density 7.75037 g/cm^3
Yield Strength 220.632 MPa
Ultimate Tensile Strength 399.896 MPa
Stress Young’s Modulus 199.948 GPa
Poisson’s Ratio 0.26 ul
Shear Modulus 79.3444 GPa
Part Name(s) TUBE
PLATESTUBES

 Operating conditions

 Force:1

Load Type Force
Magnitude 2000000.000 N
Vector X 0.000 N
Vector Y 2000000.000 N
Vector Z 0.000 N

Results

  Reaction Force and Moment on Constraints

Constraint Name Reaction Force Reaction Moment
Magnitude Component (X,Y,Z) Magnitude Component (X,Y,Z)
Fixed Constraint:1 908682 N 0 N 0 N m 0 N m
-908682 N 0 N m
0 N 0 N m
Fixed Constraint:2 1091640 N 0 N 0 N m 0 N m
-1091640 N 0 N m
0 N 0 N m

 Result Summary

Name Minimum Maximum
Volume 10807400 mm^3
Mass 83.7615 kg
Von Mises Stress 0.000130799 MPa 483.862 MPa
1st Principal Stress -93.9799 MPa 371.473 MPa
3rd Principal Stress -407.068 MPa 96.53 MPa
Displacement 0 mm 2.38745 mm
Safety Factor 0.455982 ul 15 ul

 Figures

Von Mises Stress

Result_0_1
1st Principal Stress

Result_0_6
3rd Principal Stress

Result_0_8

Displacement

Result_0_2

Safety Factor

Result_0_57

 

Standar Kriteria:

Longitudinal Span = 600mm
Transversal Span = 600mm
Allowable Span = L/200 (according to AISC criteria)
= 3mm (Longitudinal)
= 3mm (Transversal)
Allowable Stress = 0.75 x Yield Stress (according to AISC criteria F2-1)
Allowable Stress = 0.75 x 220.632 Mpa (165.474 Mpa)
Poisson Ration = 0.26 ul

Standar Kondisi:

  • Von Mises GAGAL, jika nilai maximum Von Mises stress material lebih dari kekuatan bahan (strength of the material).
  • 1st Principal Stress akan membantu kita memahami maximum tegangan tarik (tensile) akibat adanya pembebanan
  • 3rd Principal Stress akan membantu kita memahami maximum gaya tekan (compressive stress) karena adanya tekanan.
  • Rasio Poisson adalah regangan lateral yang dibagi dengan regangan aksial (strain lateral tentang daerah, dan regangan aksial adalah tentang perubahan panjang)

Kesimpulan:

  • Metrial Besi yang digunakan adalah A36 dengan density sekitar 7,800 kg/m3 (0.28 lb/cu in). Young’s modulus untuk besi A36 adalah 200 GPa (29,000,000 psi). Besi A36 steel memiliki Poisson’s ratio sekitar 0.26, dan shear modulus sekitar 75 GPa (10,900,000 psi). Sedangkan plat besi A36 bars, dan shapes dengan ketebalan kurang dari 8 in (203 mm) mempunyai minimum yield strength sekitar 36,000 psi (250 MPa) dan ultimate tensile strength sekitar 58,000–80,000 psi (400–550 MPa).
  • Beban yang disimulasikan adalah 200 Ton tekanan ke atas
  • Desain Support Beban tidak seluruhnya OK

Misalnya:

  • Von Mises ketika disimulasikan pada bagian elemen sepert itu hasilnya menunjukkan angka 483.862 MPa, padahal elemen tersebut di desain untuk 165.474 Mpa. (Harus dikoreksi lagi mengapa bisa sampai hasilnya begitu?)
  • Sedangkan untuk Plat baja akan mengalami ledutan ketika ada pembebanan 200 Ton di tengah. Yang diperbolehkan ledutannya terjadi hanya 3mm sedangkan dalam simulasi tersebut kita dapatkan Displacement sebesar 2.38745 mm, artinya masih diperbolehkan atau diterima oleh kriteria AISC.
  • Tegangan Tarik didapatkan 93.9799 MPa dengan arah minus, padahal yang diperbolehkan adalah 165.474 Mpa, jadi masih OK.
  • Tegangan Tekan didapatkan 96.53 MPa, padahal yang diperbolehkan adalah 165.474 Mpa, jadi masih OK.
  • Safety Factor didaptkan 0.46 ul, padahal yang dikriteriakan adalah 0.26 ul untuk material tersebut, jadi masih OK.

Mudah mudahan penjelasan ini ada manfaatnya.

Tribut to Pak Gun :)

Pengujian Data


Misalnya dalam proses pengukuran penimbangan (weighing) diperlukan kegiatan pengujian terhadap data yang didapatkan dari data log pembacaan mesin terhadap beban yang ditimbang. Kegiatan pengujian tersebut dimulai dari analisis atas jumlah data yang seharusnya dikumpulkan sampai dengan analisis atas konistensi kerja mesin weighing tersebut.

Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data diperlukan untuk memastikan bahwa yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam laporan penimbangan tersebut adalah cukup secara obyektif.

Idealnya pengukuran harus dilakukan dalam jumlah banyak, bhakan sampai jumlah yang tak terhingga agar data hasil pengukuran layak untuk digunakan. Namun pengukuran dalam jumlah yang tak terhingga sulit dilakukan mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada; baik dari segi biaya, tenaga, waktu dan sebagainya.

Sebaliknya, pengumpulan data dalam jumlah yang sekedarnya juga kurang baik karena tidak mewakili keadaan yang sebenarnya. Untuk itu, pengujian kecukupan data dilakukan dengan berpedoman pada konsep statistic, yaitu tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan.

Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan adalah pencerminan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran dalam jumlah yang banyak. Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesian sebenarnya.

Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur akan ketelitian data pembacaan beban saat penimbangan dari mesin tersebut. Pengaruh tingkat ketelitain dan keyakinan adalah; bahwa semakin tinggi tingkat ketelitian dan semakin besar tingkat keyakinan, maka semakin banyak banyak pengukuran yang diperlukan.

Tes kecukupan data dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

tes kecukupan data

Rumus Tes Kecukupan Data

Dimana:
k= Tingkat Keyakinan (99% ≈ 3, 95% ≈ 2)
s = Derajat Ketelitian
N = Jumlah Data Pengamatan
N’ = Jumlah Data Teoritis
x = Data Pengamatan

Jika N’ ≤ N maka data dianggap cukup, namun jika N’ > N data tidak cukup (kurang) dan perlu dilakukan penambahan data. Baca lebih lanjut

Peluang Teknik Industri dibidang Perminyakan & Gas


Kita ketahui bahwa minyak dan gas adalah bahan energi yang tidak bisa diperbarui. Sumur-sumur minyak, jika dieksploitasi terus menerus akan berkurang cadangannya dan akan akhirnya akan habis pada waktunya. Hal itu yang terjadi pada sumur-sumur minyak Indonesia, yang sebagian besar adalah sumur-sumur tua dan mulai lelah karena telah dipompa keluar secara terus menerus. Bahkan ada yang telah dieksploitasi sejak abad ke 19, seperti di Sumatera Utara.

gerbang_260_9

Kondisi tersebut juga terjadi di seluruh dunia. Sejak tahun 2000-an, di seluruh dunia, tidak ditemukan lagi lapangan minyak raksasa. Kendati teknologi eksplorasi semakin canggih seperti system pengelolahan lapangan minyak shale-oil, namun yang ditemukan adalah lapangan minyak kecil dan terus semakin kecil. Demikian pula halnya dengan kegiatan eksplorasi yang dilakukan di seluruh Indonesia. Sejak sepuluh tahun terakhir tidak berhasil menemukan lapangan minyak dengan cadangan produksi yang besar. Kebanyakan yang ditemukan adalah sumur-sumur minyak marjinal dengan kapasitas produksi di bawah 10.000 barrel per hari (Nasti, 2015).

Tantangan berikut yang dihadapi Indonesia sekarang, khususnya SKK Migas adalah turun tajamnya harga minyak mentah. Bahkan saat ini harga minyak sudah di bawah USD 40,- barel per hari. Hal itu antara lain disebabkan ditemukannya minyak jenis baru yang diproduksi oleh AS, seperti shale-oil yang diolah dari batuan dan ongkos produksinya lebih murah.

peta-cekungan-2012

Meskipun demikian, berbeda dengan di negara-negara maju yang cadangan minyaknya mulai habis, berdasarkan data yang tersedia, sebenarnya cadangan minyak Indonesia sebenarnya cukup melimpah. Masih ada 44 cekungan yang memiliki cadangan minyak prospektif, yang belum kita garap. Masih tersedia sekitar 7549,81 Million Stock Tank Barrels (MMSTB) dan cadangan gas yang sudah terbukti adalah 108,40 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF) dan diproyeksikan potensinya mencapai 48,74 TSCF sehingga cadangan gas total adalah 157,14 sebagai cadangan prospektif di dalam perut bumi Indonesia (LEMIGAS, 2011).

Yang menjadi masalah adalah cadangan minyak dan gas tersebut masih bersembunyi di lapisan perut bumi yang cukup dalam. Banyak pula cadangan migas tersebut berada di bawah dasar laut dalam yang ombaknya ganas. Karenanya, industri migas merupakan industri padat modal dan padat teknologi serta penuh resiko.

12038186_992675850796632_1538670030856576750_n

Biaya yang diperlukan untuk kegiatan eksplorasi, khususnya pengeboran sumur migas di laut dalam bisa mencapai US$ 100 juta per sumur, dan di darat hampir rata-rata sekitar US$ 15 juta. Padahal, sumur yang perlu dibor pada setiap lapangan migas bisa puluhan sumur. Sehingga suatu kegiatan eksplorasi membutuhkan dana ratusan juta sampai miliaran dollar, dan itu tanpa kepastian bahwa dana yang dihabiskan bisa kembali, atau justru ikut hanyut di laut dalam.

Dalam pengusahaan teknologi eksplorasi migas ini, perusahaan-perusahaan migas nasional kita pada umumnya baru sampai pada penguasaan teknologi untuk kegiatan eksplorasi di daratan (onshore). Untuk kegiatan eksplorasi di darat kita juga sudah memiliki SDM yang cukup memadai. Masalahnya, kegiatan eksplorasi migas sekarang sudah mulai bergeser ke laut dalam (offshore), yang teknologinya masih bayak dikuasai perusahaan migas asing.

download

Peluang teknik bidang Industri di Oil & Gas dari upstream hingga downstream masih terbuka luas. Bukan hanya sebatas Supply Chain Management saja, namun dapat juga berkecimpung dalam lintas operasional seperti Safety Management, Method Engineering, Project Management, HRD, Operation, Logistik, dan lain-lain yang menerapkan standar mutu industri di industri oil & gas.

Seorang teknik industri masih sangat dibutuhkan oleh industri oil & gas sebagai support, dan oleh sebab kebutuhan support yang sangat luas tersebut memungkinkan seorang engineer teknik industri dapat beradaptasi di industri oil & gas. Proyek pembangunan di bidang migas masih akan terus melibatkan berbagai macam bidang disiplin ilmu di teknik baik itu Teknik Sipil, Mesin, Elektro, Industri, yang semuanya akan saling berinteraksi dan terintegrasi baik itu pada tahapan feasibility study, conceptual study, design engineering, construction (EPCI), maupun operasionalnya.

Menghitung Titik Pusat Pada Obyek 3D


Bagaimana caranya kita mengetahui titik pusat berat suatu benda tiga dimensi seperti model gangsing dimana terdiri dari obyek berbentuk silinder, kemudian ada obyek kotaknya dan dibawahnya ada bentuk kerucut? Anggaplah semua benda bisa berbentuk apa saja, contoh misalnya:

TPyJB

Berikut ukurannya adalah:

  • Silinder Atas Radius=12, Tinggi=50
  • Kotak Tengah Lebar=70, Tinggi=56, Dalam=70
  • Kerucut Bawah (posisi terbalik): Radius: 35, Tinggi: 28

Kita asumsikan bahwa berat sama dengan 1, dan ini tidak akan mempengaruhi dari titik pusat benda tersebut.

Sehingga:

  • Mc = berat silinder = π x r² x t = π×144×50=22619.4671
  • Mb = berat kotak = tinggi x lebar x dalam = 70×56×70=274400
  • Mk = berat kerucut = (1/3) x r² x t = (1/3) x 35² x 28 = 35918.876

Kita gunakan koordinat z untuk menentukan posisi tengah dari benda tersebut dari tanah, sehingga ujung dari benda tersebut adalah z = 0

  • zk = titik tengah kerucut = ¾ x 28 = 21
  • zb = titik tengah kotak = 28 + (½ x 56) = 56
  • zc = titik tengah silinder = 28 + 56 + (½ x 50) = 109

Dengan demikian maka kita sudah bisa mendapatkan titik pusat dari benda tersebut dengan menggunakan formula:

z formula

Maka hasilnya adalah z=55.8248